Bursa saham Amerika Serikat atau Wall Street ditutup beragam pada perdagangan Rabu, 13 Mei 2026. Sentimen pasar membaik sepanjang sesi perdagangan meski sebelumnya sempat tertekan akibat data inflasi produsen Amerika Serikat yang lebih tinggi dari perkiraan.
Mengutip laporan Investing.com, indeks acuan S&P 500 naik 0,6 persen dan ditutup di level rekor baru 7.444,04 poin. Sementara itu, Nasdaq Composite yang didominasi saham teknologi melonjak 1,2 persen menjadi 26.402,34 poin.
Sebaliknya, DJIA turun 0,1 persen dan berakhir di 49.693,20 poin akibat tekanan pada saham-saham seperti Salesforce dan Home Depot.
Saham Teknologi Jadi Penopang Pasar
Penguatan pasar terutama ditopang saham-saham teknologi berkapitalisasi besar. Sejumlah emiten utama seperti NVIDIA, Apple, Google, dan Tesla menjadi pendorong utama kenaikan S&P 500.
Kepala Strategi Pasar Jones Trading, Michael O’Rourke, mengatakan investor beralih ke saham-saham berkapitalisasi sangat besar sebagai aset yang dianggap lebih aman di tengah tekanan inflasi dan kenaikan imbal hasil obligasi.
Menurutnya, sektor keuangan, utilitas, dan saham berkapitalisasi kecil justru mengalami tekanan akibat ekspektasi suku bunga yang tetap tinggi.
Inflasi Produsen AS Jadi Perhatian
Pasar sebelumnya dikejutkan oleh data indeks harga produsen (PPI) Amerika Serikat yang menunjukkan lonjakan lebih tinggi dari perkiraan. Kondisi ini meningkatkan kekhawatiran bahwa inflasi masih sulit dikendalikan.
Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun bahkan sempat menguji level 4,5 persen setelah data PPI dirilis.
Kunjungan Trump ke Tiongkok Jadi Sorotan
Investor juga memantau kunjungan Presiden Donald Trump ke Tiongkok untuk bertemu Presiden Xi Jinping.
Pertemuan tersebut diperkirakan membahas isu perdagangan, Taiwan, hingga konflik Iran yang berdampak besar terhadap pasar energi global. Trump turut membawa sejumlah pimpinan perusahaan teknologi besar, termasuk CEO NVIDIA Jensen Huang dan CEO Apple Tim Cook.
Pasar berharap pertemuan tersebut dapat menghasilkan kemajuan diplomatik, terutama terkait konflik Iran yang menyebabkan gangguan pasokan minyak global melalui Selat Hormuz.
Harga Minyak Tetap Tinggi
Ketegangan geopolitik membuat harga minyak masih bertahan tinggi di atas USD100 per barel. Minyak Brent tercatat berada di kisaran USD105,87 per barel meski sempat terkoreksi 1,8 persen.
Kondisi ini terus memicu kekhawatiran inflasi global dan menjadi salah satu faktor yang memengaruhi arah kebijakan moneter Amerika Serikat.
Cisco dan Alibaba Jadi Perhatian Investor
Dari sisi korporasi, pasar juga menantikan laporan keuangan Cisco yang dijadwalkan dirilis setelah penutupan pasar.
Sementara itu, saham Alibaba yang tercatat di AS melonjak lebih dari delapan persen setelah perusahaan melaporkan pertumbuhan kuat pada bisnis komputasi awan dan kecerdasan buatan, meski laba bersih kuartalannya menurun.
Dengan dominasi saham teknologi dan perhatian pasar terhadap perkembangan geopolitik global, Wall Street masih menunjukkan ketahanan meski dibayangi tekanan inflasi dan ketidakpastian ekonomi internasional.