Minyak Dunia Bangkit, Harga Melonjak Hampir 2 Persen

Minyak Dunia Bangkit, Harga Melonjak Hampir 2 Persen

Harga minyak dunia kembali melonjak tajam pada perdagangan awal Asia, Kamis (28/5/2026), setelah Amerika Serikat (AS) dilaporkan melancarkan serangan baru terhadap Iran untuk kedua kalinya dalam sepekan terakhir. Eskalasi konflik tersebut memicu kekhawatiran pasar terhadap prospek perdamaian dan gangguan pasokan energi global.

Mengutip Investing.com, harga minyak Brent berjangka untuk pengiriman Juli naik 1,9 persen menjadi USD96,03 per barel. Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) juga melonjak 1,9 persen menjadi USD90,36 per barel.

Kenaikan harga minyak ini menjadi pembalikan arah setelah sebelumnya pasar energi mengalami tekanan tajam akibat optimisme bahwa Iran akan segera membuka kembali jalur pelayaran komersial di Selat Hormuz dalam waktu 30 hari.

Laporan Reuters menyebutkan tiga ledakan terdengar di Bandar Abbas, Iran, pada Kamis dini hari. Militer AS dilaporkan melakukan serangan baru terhadap sejumlah situs militer Iran dan menyebut aksi tersebut sebagai langkah “pembelaan diri”.

Serangan tersebut merupakan aksi militer kedua AS terhadap Iran dalam pekan ini. Meski demikian, pihak militer AS mengklaim bahwa gencatan senjata dengan Iran masih tetap berlaku.

Ketegangan semakin meningkat setelah Presiden AS Donald Trump membantah laporan yang menyebut Iran akan membuka kembali pelayaran komersial melalui Selat Hormuz dalam waktu dekat. Trump juga menolak usulan pengelolaan bersama Selat Hormuz oleh Iran dan Oman.

Pernyataan Trump mengindikasikan bahwa kesepakatan perdamaian antara AS dan Iran masih jauh dari finalisasi. Padahal, selama sepekan terakhir pasar sempat optimistis konflik akan segera mereda sehingga harga minyak sempat turun tajam dan Brent bergerak di bawah level USD100 per barel.

Meski sejumlah pejabat AS sebelumnya memberikan sinyal positif terkait negosiasi dengan Iran, kedua negara masih berselisih mengenai program nuklir Teheran dan pengelolaan Selat Hormuz.

Selat Hormuz sendiri merupakan jalur strategis yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak global. Gangguan terhadap jalur pelayaran di kawasan tersebut terus memengaruhi distribusi energi dunia dan meningkatkan volatilitas harga minyak internasional.

Laporan terbaru menunjukkan arus kapal tanker minyak masih melintas di Selat Hormuz, namun volumenya tetap berada jauh di bawah tingkat normal sebelum konflik pecah. Kondisi itu membuat pasar tetap khawatir terhadap potensi gangguan pasokan energi global dalam jangka pendek.