Harga Minyak Tertekan Menjelang Putusan Kesepakatan AS-Iran

Harga Minyak Tertekan Menjelang Putusan Kesepakatan AS-Iran

Harga minyak dunia kembali melemah pada perdagangan Jumat, 29 Mei 2026, seiring meningkatnya harapan pasar terhadap tercapainya kesepakatan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Pelaku pasar terus mencermati perkembangan negosiasi kedua negara yang berpotensi mengakhiri ketegangan geopolitik dan mengembalikan kelancaran distribusi energi global melalui Selat Hormuz.

Berdasarkan data Investing.com, harga minyak mentah Brent untuk kontrak Agustus 2026 turun 0,9 persen menjadi USD91,87 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS untuk kontrak Juli 2026 juga melemah 0,9 persen ke level USD88,09 per barel.

Penurunan harga minyak terjadi setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan akan menggelar pertemuan dengan para pejabat senior di Gedung Putih guna mengambil keputusan final terkait potensi kesepakatan dengan Iran.

Pasar Menanti Kepastian Kesepakatan AS-Iran

Trump menyatakan bahwa rancangan kesepakatan tersebut mencakup komitmen Iran untuk tidak mengembangkan senjata nuklir, pembukaan kembali Selat Hormuz tanpa pungutan biaya, serta penghapusan ranjau di jalur pelayaran strategis tersebut.

Selain itu, AS disebut akan mencabut blokade angkatan laut terhadap pelabuhan dan garis pantai Iran apabila kesepakatan tercapai.

“Kapal-kapal yang terjebak di Selat karena blokade angkatan laut kini dapat memulai proses pulang ke rumah,” tulis Trump melalui platform Truth Social.

Namun demikian, sejumlah pihak di Iran membantah sebagian isi pernyataan tersebut. Kantor Berita Fars menyebut pernyataan Trump sebagai campuran antara fakta dan klaim yang belum disepakati dalam pembahasan resmi.

Media pemerintah Iran juga menegaskan belum ada negosiasi final terkait program nuklir Teheran maupun mekanisme pembukaan Selat Hormuz.

Sementara itu, laporan The New York Times menyebut pertemuan di Ruang Situasi Gedung Putih berlangsung selama dua jam dan berakhir tanpa keputusan final, sehingga ketidakpastian masih membayangi pasar energi global.

Selat Hormuz Jadi Faktor Utama Pergerakan Harga Minyak

Kesepakatan damai antara AS dan Iran dinilai berpotensi menjadi terobosan terbesar sejak konflik meningkat pada akhir Februari 2026. Selama beberapa bulan terakhir, ketegangan di kawasan Teluk telah memicu gangguan pasokan minyak global dan mendorong lonjakan harga energi.

Penutupan sebagian aktivitas di Selat Hormuz sempat menimbulkan kekhawatiran terhadap kelancaran distribusi minyak dunia karena jalur tersebut merupakan salah satu rute perdagangan energi terpenting di dunia.

Namun dalam beberapa pekan terakhir, lalu lintas kapal tanker masih dapat berlangsung dengan pengawasan ketat dari aparat keamanan Iran, sehingga membantu meredakan kekhawatiran pasar.

Harapan terhadap tercapainya kesepakatan damai juga menjadi faktor utama yang menekan harga minyak sepanjang Mei 2026.

Inflasi AS dan Harga Energi Masih Jadi Perhatian

Di sisi lain, investor juga mencermati perkembangan inflasi di Amerika Serikat. Data terbaru menunjukkan indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) inti, yang menjadi acuan Federal Reserve (The Fed), mencatat kenaikan tahunan tercepat sejak November 2023.

Kenaikan harga energi akibat konflik Timur Tengah dinilai turut memberikan tekanan terhadap inflasi dan daya beli konsumen AS.

Analis JPMorgan, Michael Feroli dan Abiel Reinhart, memperkirakan kenaikan harga minyak sebesar 50 persen dapat mendorong inflasi PCE inti meningkat sekitar 0,3 hingga 0,5 persen dalam beberapa tahun mendatang.

Meski demikian, prospek perdamaian dan potensi normalisasi pasokan energi membuat pasar mulai memperkirakan tekanan harga minyak akan berkurang secara bertahap.

Brent Catat Penurunan Bulanan Terburuk Sejak 2020

Harga minyak dunia diperkirakan menutup Mei 2026 dengan koreksi tajam meskipun konflik Timur Tengah belum sepenuhnya berakhir.

Minyak mentah Brent diproyeksikan turun lebih dari 19 persen sepanjang bulan ini, menjadi penurunan bulanan terbesar sejak Maret 2020.

Sementara itu, minyak mentah WTI diperkirakan mencatat pelemahan lebih dari 16 persen, yang menjadi penurunan bulanan terdalam sejak April 2025.

Penurunan tersebut mencerminkan meningkatnya optimisme pasar terhadap potensi berakhirnya konflik AS-Iran serta normalisasi aktivitas perdagangan energi global dalam beberapa bulan mendatang.