Dolar Amerika Serikat (AS) bergerak menguat tipis pada perdagangan Rabu waktu setempat dan mendekati level tertinggi sesi di tengah ketidakpastian arah negosiasi perdamaian antara AS dan Iran. Konflik yang telah berlangsung hampir tiga bulan tersebut terus memengaruhi sentimen pasar global, termasuk pergerakan mata uang utama dunia.
Mengutip Xinhua, Kamis (28/5/2026), indeks dolar AS yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia naik 0,04 persen menjadi 99,21.
Pada penutupan perdagangan di New York, euro melemah ke level USD1,1631 dari sebelumnya USD1,1635. Poundsterling Inggris juga turun menjadi USD1,3430 dari USD1,3445 pada sesi sebelumnya.
Sementara itu, dolar AS menguat terhadap yen Jepang menjadi 159,51 yen dari sebelumnya 159,33 yen. Greenback juga naik terhadap franc Swiss menjadi 0,7868 franc Swiss dari 0,7857 franc Swiss.
Dolar AS turut menguat terhadap dolar Kanada menjadi 1,3835 dolar Kanada dari 1,3813 dolar Kanada. Namun, mata uang AS melemah terhadap krona Swedia menjadi 9,2972 dari sebelumnya 9,3198 krona Swedia.
Sentimen pasar sebelumnya sempat membaik setelah muncul laporan bahwa Iran telah menerima draf awal nota kesepahaman (MoU) tidak resmi untuk mengakhiri konflik dengan AS. Berdasarkan laporan media pemerintah Iran, kesepakatan tersebut mencakup pemulihan pelayaran komersial melalui Selat Hormuz dan penarikan pasukan militer AS dari sekitar wilayah Iran.
Namun, Gedung Putih membantah laporan tersebut. Presiden AS Donald Trump sebelumnya mengungkapkan bahwa nota kesepahaman dengan Iran telah “sebagian besar dinegosiasikan” setelah pembicaraan dengan para pemimpin regional.
Harapan pasar terhadap tercapainya perdamaian kembali meredup setelah militer AS mengonfirmasi telah melakukan serangan defensif terhadap Iran, yang kemudian dibalas oleh Teheran. Meski demikian, laporan Al Jazeera menyebut negosiasi tidak langsung antara kedua pihak masih terus berlangsung.
“Mereka mulai memberi kita hal-hal yang harus mereka berikan kepada kita dan jika mereka melakukannya, itu bagus. Jika mereka tidak mau, maka orang di sebelah kiri saya akan menghabisi mereka,” kata Trump, merujuk pada Menteri Perang AS Pete Hegseth.
Trump menambahkan bahwa AS hanya akan menyepakati perjanjian yang dianggap menguntungkan. “Kita bisa membuat kesepakatan yang baik sekarang, tetapi mungkin bukan kesepakatan yang hebat. Jika bukan kesepakatan yang hebat, kita tidak akan membuatnya,” ujarnya.
Di sisi lain, harga minyak dunia mengalami penurunan pada perdagangan Rabu karena meningkatnya harapan normalisasi jalur pelayaran tanker minyak melalui Selat Hormuz. Jalur strategis tersebut sebelumnya mengalami gangguan besar yang memicu lonjakan harga energi global dan tekanan inflasi.
Kenaikan harga minyak sebelumnya telah mendorong ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga bank sentral global, termasuk Federal Reserve AS. Kondisi suku bunga tinggi umumnya mendukung penguatan dolar AS karena meningkatkan daya tarik aset berbasis dolar.
Pelaku pasar kini menantikan rilis data indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) inti AS yang menjadi indikator inflasi utama pilihan Federal Reserve. Data tersebut diperkirakan akan menjadi penentu arah kebijakan suku bunga AS berikutnya sekaligus memengaruhi pergerakan pasar obligasi dan mata uang global.