Harga konsumen di Amerika Serikat (AS) meningkat lebih tinggi dari perkiraan secara tahunan pada April 2026. Lonjakan inflasi tersebut terutama dipicu kenaikan tajam harga bensin di tengah gejolak energi akibat konflik Iran yang masih berlangsung.
Dilansir dari Investing.com, Rabu, 13 Mei 2026, indeks harga konsumen (Consumer Price Index/CPI) AS tercatat tumbuh 3,8 persen secara tahunan pada April. Angka ini lebih tinggi dibandingkan proyeksi ekonom sebesar 3,7 persen dan naik dari posisi 3,3 persen pada Maret 2026.
Kenaikan tersebut menjadi laju inflasi tercepat sejak Mei 2023 dan kembali memicu perhatian pasar terhadap arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed).
3.8%>3.7%3.8\% > 3.7\%3.8%>3.7%
Sementara itu, secara bulanan, inflasi AS melambat menjadi 0,6 persen dibandingkan 0,9 persen pada Maret, sejalan dengan ekspektasi pasar.
Kenaikan inflasi terutama didorong lonjakan harga energi, khususnya bensin. Harga bensin di AS kini berada di kisaran USD4,50 per galon, naik signifikan dibandingkan USD3,14 per galon pada periode yang sama tahun lalu.
Setelah disesuaikan secara musiman, harga bensin naik 5,4 persen pada April, meskipun lebih rendah dibandingkan lonjakan 21,2 persen pada Maret lalu.
Konflik di Timur Tengah turut memperburuk situasi energi global. Penutupan efektif Selat Hormuz, jalur penting distribusi sekitar seperlima minyak dunia, membuat harga minyak mentah melonjak jauh di atas level sebelum perang.
Akibatnya, indeks energi secara keseluruhan naik 3,8 persen pada April dan menyumbang lebih dari 40 persen dari total kenaikan harga konsumen bulanan di AS.
Di sisi lain, para analis masih memperdebatkan sejauh mana ekonomi AS dapat terlindungi dari kenaikan harga minyak global, mengingat negara tersebut kini berstatus sebagai eksportir energi bersih.
Selain inflasi umum, inflasi inti atau core CPI yang tidak memasukkan komponen makanan dan energi juga menunjukkan kenaikan. CPI inti tercatat naik menjadi 2,8 persen secara tahunan dan 0,4 persen secara bulanan pada April 2026.
2.8%>2.7%2.8\% > 2.7\%2.8%>2.7%
Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan perkiraan ekonom yang memproyeksikan inflasi inti sebesar 2,7 persen secara tahunan dan 0,3 persen secara bulanan.
Kenaikan inflasi inti dipicu peningkatan harga pada sejumlah sektor, termasuk perlengkapan rumah tangga, tarif penerbangan, perawatan pribadi, pakaian, dan pendidikan. Meski demikian, kenaikan tersebut sebagian tertahan oleh penurunan biaya kendaraan baru, komunikasi, dan layanan kesehatan.
Analis Vital Knowledge menyoroti kenaikan biaya perumahan sebagai salah satu komponen paling mengejutkan dalam laporan inflasi April. Harga hotel dan biaya sewa tercatat meningkat lebih cepat dibandingkan bulan sebelumnya.
“Meningkatnya biaya perumahan menjadi elemen paling mengejutkan karena seharusnya sektor ini menjadi sumber utama tekanan disinflasi dalam ekonomi,” tulis analis Vital Knowledge dalam catatannya.
Menurut mereka, jika biaya perumahan terus meningkat bersamaan dengan dampak konflik Iran terhadap harga energi dan barang lainnya, maka tekanan inflasi diperkirakan masih akan berlanjut dalam beberapa waktu ke depan.
Kondisi tersebut dinilai dapat memperbesar peluang Federal Reserve mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, bahkan membuka ruang kenaikan suku bunga tambahan apabila tekanan inflasi terus berlanjut.