Sentimen Damai AS-Iran Tekan Penguatan Dolar AS

Sentimen Damai AS-Iran Tekan Penguatan Dolar AS

Dolar Amerika Serikat (AS) melemah pada perdagangan Kamis, 28 Mei 2026, setelah muncul laporan bahwa Washington dan Teheran mencapai kesepakatan sementara untuk memperpanjang gencatan senjata dan melanjutkan negosiasi terkait program nuklir Iran.

Sebelumnya, dolar AS sempat menguat akibat meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Teluk serta data inflasi Amerika Serikat yang menunjukkan kenaikan tercepat dalam tiga tahun terakhir.

Mengutip data Investing.com pada Jumat, 29 Mei 2026, indeks dolar AS yang mengukur pergerakan greenback terhadap enam mata uang utama dunia turun 0,2 persen ke level 99,02.

AS dan Iran Sepakati MoU 60 Hari

Laporan Axios menyebut Amerika Serikat dan Iran telah menyepakati nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU) berdurasi 60 hari yang masih menunggu persetujuan Presiden Donald Trump.

Kesepakatan sementara tersebut mencakup jaminan kelancaran pelayaran di Selat Hormuz tanpa pembatasan, pencabutan blokade angkatan laut AS terhadap pelabuhan Iran, serta komitmen Iran untuk tidak mengembangkan senjata nuklir.

Sumber Gedung Putih yang dikutip Fox News juga menyebut kesepakatan sementara telah dicapai meski belum memperoleh persetujuan final dari Trump. Perkembangan ini dinilai menjadi langkah terbesar dalam konflik AS-Iran sejak serangan gabungan AS dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari lalu.

Sebelumnya, dolar AS mendapat dukungan dari kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS yang dipicu lonjakan harga minyak dan meningkatnya ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga tinggi.

Ketegangan di kawasan Teluk sempat meningkat setelah Komando Pusat AS atau CENTCOM menyatakan Iran meluncurkan rudal balistik ke arah Kuwait dan drone di sekitar Selat Hormuz.

“Semua drone berhasil dicegat oleh pasukan AS yang juga mencegah peluncuran drone keenam dari situs kendali darat Iran di Bandar Abbas,” kata CENTCOM.

Inflasi AS Masih Tinggi

Di luar isu geopolitik, pasar juga mencermati data ekonomi terbaru Amerika Serikat, khususnya indikator inflasi pilihan Federal Reserve atau The Fed.

Menurut data Biro Analisis Ekonomi AS, indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) inti yang tidak memasukkan komponen makanan dan energi naik 3,3 persen secara tahunan pada April 2026. Angka tersebut menjadi level tertinggi sejak November 2023 dan jauh di atas target inflasi dua persen milik The Fed.

Sementara itu, PCE utama meningkat 3,8 persen secara tahunan, tertinggi sejak Mei 2023. Meski demikian, kedua data tersebut masih sesuai dengan perkiraan pasar.

Secara bulanan, PCE inti naik 0,2 persen pada April, melambat dibanding kenaikan 0,3 persen pada Maret dan lebih rendah dari ekspektasi pasar sebesar 0,3 persen.

Selain inflasi, data pertumbuhan ekonomi AS juga menunjukkan perlambatan. Produk domestik bruto (PDB) riil AS hanya tumbuh 1,6 persen pada kuartal pertama 2026, lebih rendah dibanding estimasi awal sebesar dua persen.

Presiden Bolvin Wealth Management, Gina Bolvin, menilai kondisi saat ini menjadi tantangan besar bagi investor karena pertumbuhan ekonomi melambat di tengah tekanan inflasi yang kembali meningkat.

“Pertumbuhan melambat menjadi 1,6 persen, tetapi inflasi meningkat. Ini membuat fleksibilitas The Fed semakin terbatas dan mendorong pemangkasan suku bunga menjadi lebih sulit,” ujar Bolvin.

Yen dan Won Menguat terhadap Dolar

Di pasar mata uang Asia, yen Jepang menguat terhadap dolar AS dengan pasangan USD/JPY turun 0,1 persen menjadi 159,28. Penguatan yen terjadi setelah otoritas Jepang kembali memberi sinyal kemungkinan intervensi pasar untuk menjaga stabilitas mata uang.

Sementara itu, won Korea Selatan juga menguat dengan pasangan USD/KRW turun 0,4 persen menjadi 1.495,30.

Bank Sentral Korea mempertahankan suku bunga acuan di level 2,50 persen sesuai ekspektasi pasar. Namun, pertemuan pertama di bawah kepemimpinan Gubernur baru Shin Hyun-Song menunjukkan kecenderungan kebijakan yang lebih ketat akibat kekhawatiran terhadap dampak inflasi dari tingginya harga minyak global.