Rupiah Dibuka Melemah ke Rp17.878 per Dolar AS

Rupiah Dibuka Melemah ke Rp17.878 per Dolar AS

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka melemah pada perdagangan Rabu, 3 Juni 2026. Tekanan terhadap mata uang Garuda terjadi di tengah penguatan dolar AS yang dipicu ketidakpastian terkait perundingan perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah berada di level Rp17.878 per dolar AS pada pembukaan perdagangan. Posisi tersebut melemah 39 poin atau 0,22 persen dibandingkan penutupan sebelumnya yang berada di level Rp17.839 per dolar AS.

Sementara itu, data Yahoo Finance menunjukkan rupiah berada di level Rp17.858 per dolar AS. Meski demikian, posisi tersebut masih lebih baik dibandingkan pembukaan perdagangan sehari sebelumnya yang berada di level Rp17.879 per dolar AS.

Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi memperkirakan pergerakan rupiah pada perdagangan hari ini akan berlangsung fluktuatif dengan kecenderungan melemah. Ia memproyeksikan rupiah bergerak dalam rentang Rp17.840 hingga Rp17.900 per dolar AS.

Menurut Ibrahim, sentimen utama yang memengaruhi pasar berasal dari perkembangan negosiasi antara AS dan Iran. Presiden AS Donald Trump menyatakan pembicaraan dengan Iran masih berlangsung dan berharap tercapai kesepakatan untuk memperpanjang gencatan senjata serta membuka kembali Selat Hormuz. Namun sebelumnya, kantor berita Tasnim melaporkan bahwa Iran telah menangguhkan negosiasi tidak langsung dengan Washington.

Ketidakpastian tersebut membuat pelaku pasar cenderung berhati-hati, sementara dolar AS memperoleh dukungan sebagai aset safe haven. Situasi geopolitik di Timur Tengah juga masih menjadi perhatian setelah Lebanon mengumumkan gencatan senjata parsial antara Hizbullah dan Israel.

Dari dalam negeri, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan inflasi Indonesia pada Mei 2026 mencapai 3,08 persen secara tahunan (year on year). Secara bulanan, inflasi tercatat sebesar 0,28 persen, sementara inflasi tahun kalender mencapai 1,35 persen.

Selain itu, sektor manufaktur Indonesia menunjukkan perbaikan. Data S&P Global mencatat Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia naik ke level 50,0 pada Mei 2026 setelah berada di level 49,1 pada April. Kenaikan tersebut menandakan aktivitas manufaktur kembali memasuki zona ekspansi, meski masih menghadapi tantangan berupa kenaikan biaya bahan baku dan gangguan pasokan.