Rupiah Dibuka Melemah ke Rp17.182 per Dolar AS, Turun 44 Poin

Rupiah Dibuka Melemah ke Rp17.182 per Dolar AS, Turun 44 Poin

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka melemah pada perdagangan Jumat, 17 April 2026. Berdasarkan data Bloomberg, posisi rupiah hingga pukul 10.00 WIB berada di level Rp17.182,5 per USD, turun 44 poin atau 0,26 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp17.138,5 per USD.

Sementara itu, data dari Yahoo Finance mencatat rupiah berada di kisaran Rp17.137 per dolar AS pada waktu yang sama. Pelemahan ini mencerminkan tekanan eksternal yang masih membayangi pasar keuangan domestik.

Analis pasar uang, Ibrahim Assuaibi, memproyeksikan pergerakan rupiah akan fluktuatif namun cenderung melemah sepanjang hari ini.

“Untuk perdagangan hari ini, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp17.130 hingga Rp17.170 per dolar AS,” ujarnya.

Dari sisi global, sentimen pasar dipengaruhi oleh perkembangan konflik antara AS dan Iran. Harapan meredanya ketegangan muncul setelah adanya kemungkinan Iran membuka akses pelayaran di Selat Hormuz, jalur penting yang menangani sekitar 20 persen distribusi minyak dan gas dunia.

Gedung Putih juga menyampaikan optimisme terkait potensi kesepakatan damai, meski tetap memberikan tekanan ekonomi terhadap Iran jika negosiasi tidak membuahkan hasil.

Di sisi lain, kebijakan ekonomi AS turut memberikan tekanan tambahan. Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, menyatakan bahwa pemerintah tidak akan memperpanjang pengecualian pembelian minyak dari Iran dan Rusia, yang berpotensi memperketat pasokan energi global.

Dari dalam negeri, tekanan terhadap rupiah juga datang dari peningkatan Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia. Posisi ULN pada Februari 2026 tercatat sebesar USD437,9 miliar, meningkat dari USD434,9 miliar pada bulan sebelumnya.

Kenaikan tersebut terutama didorong oleh ULN sektor publik, khususnya bank sentral, seiring masuknya aliran modal asing ke instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Sementara itu, ULN sektor swasta justru mengalami penurunan.

ULN pemerintah tercatat sebesar USD215,9 miliar atau tumbuh 5,5 persen secara tahunan. Namun, di sisi lain, tekanan fiskal juga meningkat dengan defisit anggaran mencapai 0,93 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) atau sekitar Rp240 triliun per Maret 2026.

Kondisi ini memunculkan kekhawatiran terhadap stabilitas fiskal, terutama jika harga minyak dunia bertahan tinggi di atas asumsi APBN. Pemerintah diperkirakan akan melakukan penyesuaian anggaran, termasuk kemungkinan kebijakan terkait harga BBM bersubsidi.

Secara keseluruhan, pergerakan rupiah masih akan dipengaruhi oleh kombinasi sentimen global dan domestik, dengan volatilitas yang diperkirakan tetap tinggi dalam jangka pendek.