Rupiah Awali Perdagangan Selasa di Level Rp17.885 per Dolar AS

Rupiah Awali Perdagangan Selasa di Level Rp17.885 per Dolar AS

Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka melemah pada perdagangan Selasa, 30 Juni 2026. Pelemahan terjadi di tengah tekanan pasar, meskipun dolar AS juga menghadapi sentimen negatif akibat kekhawatiran domestik.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah berada di level Rp17.885 per dolar AS, melemah 34 poin atau 0,19 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya di posisi Rp17.851 per dolar AS.

Sementara itu, berdasarkan data Yahoo Finance pada waktu yang sama, rupiah diperdagangkan di level Rp17.957 per dolar AS, relatif tidak berubah dibandingkan pembukaan perdagangan sehari sebelumnya.

Rupiah Diproyeksikan Bergerak Fluktuatif

Analis mata uang Ibrahim Assuaibi memprediksi pergerakan rupiah sepanjang perdagangan hari ini akan berlangsung fluktuatif, namun berpeluang ditutup menguat.

Ia memperkirakan nilai tukar rupiah akan bergerak dalam kisaran Rp17.800 hingga Rp17.860 per dolar AS.

Menurut Ibrahim, salah satu sentimen positif yang menopang rupiah berasal dari rencana pemerintah melakukan restrukturisasi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dengan mengurangi jumlah perusahaan pelat merah menjadi sekitar 250 dari sebelumnya sekitar 1.000 entitas.

“Pemangkasan jumlah BUMN ini bertujuan mengurangi beban anggaran yang besar, sekaligus meningkatkan efisiensi,” ujar Ibrahim.

Selain itu, keputusan pemerintah untuk tidak menerima tawaran bantuan pendanaan sebesar USD30 miliar dari Dana Moneter Internasional (IMF) juga dinilai memberikan sinyal positif mengenai kemampuan ekonomi Indonesia dalam menghadapi tekanan ekonomi global.

Pasar Menunggu Data Ekonomi

Meski terdapat sejumlah sentimen positif dari dalam negeri, Ibrahim menilai pelaku pasar masih akan mencermati sejumlah data ekonomi penting yang dijadwalkan rilis pada awal Juli 2026.

Data inflasi dan neraca perdagangan Indonesia diperkirakan menjadi indikator utama yang akan memengaruhi arah pergerakan rupiah dalam jangka pendek.

Apabila data ekonomi menunjukkan hasil yang positif, peluang penguatan rupiah dinilai semakin terbuka. Sebaliknya, jika hasilnya berada di bawah ekspektasi pasar, tekanan terhadap mata uang Garuda berpotensi kembali meningkat.