Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menguat pada pembukaan perdagangan Jumat, 3 Juli 2026. Meski demikian, analis memperkirakan pergerakan mata uang Garuda masih akan berfluktuasi dan berpotensi ditutup melemah seiring berbagai sentimen global maupun domestik yang memengaruhi pasar keuangan.
Berdasarkan data Bloomberg hingga pukul 09.50 WIB, rupiah berada di level Rp17.963 per dolar AS. Posisi tersebut menguat 32 poin atau 0,18 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya di level Rp17.995 per dolar AS.
Sementara itu, data Yahoo Finance menunjukkan rupiah diperdagangkan di level Rp17.989 per dolar AS pada periode yang sama.
Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi memperkirakan rupiah akan bergerak fluktuatif sepanjang perdagangan hari ini. Menurutnya, mata uang domestik diprediksi berada di kisaran Rp17.990 hingga Rp18.050 per dolar AS pada penutupan perdagangan.
Pergerakan rupiah dipengaruhi oleh perkembangan pembicaraan tidak langsung antara Iran dan Amerika Serikat yang membahas lalu lintas maritim di Selat Hormuz. Negosiasi yang berlangsung di Doha disebut menunjukkan kemajuan positif sehingga menjadi salah satu sentimen yang diperhatikan pelaku pasar.
Sejumlah sumber menyebutkan negosiator kedua negara membahas kelancaran pengiriman minyak melalui Selat Hormuz serta pencairan dana Iran. Meski arus pelayaran mulai pulih, ketegangan masih membayangi setelah kedua negara saling menyerang pada akhir pekan lalu menyusul serangan Iran terhadap kapal kargo.
Iran juga disebut berencana memberlakukan bea masuk terhadap pengiriman melalui Selat Hormuz mulai pertengahan Agustus setelah masa bebas tarif dalam perjanjian awal berakhir. Di sisi lain, Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance menyatakan arus distribusi minyak melalui jalur tersebut telah kembali ke tingkat sebelum konflik.
Pasar juga mencermati arah kebijakan moneter Federal Reserve. Berdasarkan CME FedWatch Tool, peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan September diperkirakan mencapai 67 persen.
Dari sisi data ekonomi Amerika Serikat, laporan ADP menunjukkan penambahan tenaga kerja sektor swasta sebanyak 98 ribu pada Juni, lebih rendah dibandingkan ekspektasi pasar sebesar 113 ribu. Sementara itu, Indeks Manajer Pembelian (PMI) Manufaktur ISM turun menjadi 53,3 dari 54,0 pada Mei dan berada di bawah proyeksi pasar.
Pelaku pasar kini menunggu rilis data Nonfarm Payrolls Amerika Serikat yang diperkirakan menunjukkan penambahan 110 ribu lapangan kerja dengan tingkat pengangguran tetap berada di level 4,3 persen.
Dari dalam negeri, Ibrahim menilai kepercayaan investor terhadap Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan. Sejumlah sentimen negatif mulai dari kasus korupsi, defisit neraca perdagangan pada Mei, lonjakan inflasi, hingga penundaan pengumuman terkait pasar modal Indonesia oleh MSCI menjadi perhatian pasar.
Selain itu, data S&P Global menunjukkan Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia turun ke level 46,9 pada Juni 2026. Angka tersebut menandakan kontraksi sektor manufaktur dengan penurunan permintaan yang menyebabkan pesanan baru dan volume produksi melemah.
Lembaga pemeringkat Fitch Ratings juga memperkirakan cadangan devisa Indonesia pada 2026 hanya mampu membiayai sekitar 4,9 bulan kebutuhan pembayaran eksternal berjalan, sedikit di bawah median negara dengan peringkat BBB. Penurunan cadangan devisa dipicu oleh memburuknya terms of trade akibat kenaikan harga energi global, intervensi Bank Indonesia di pasar valuta asing, serta pembayaran utang luar negeri.