Pasar Uang Hari Ini: Nilai Tukar Rupiah Dibuka di Posisi Rp17.791 per Dolar AS

Pasar Uang Hari Ini: Nilai Tukar Rupiah Dibuka di Posisi Rp17.791 per Dolar AS

Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mengalami pelemahan pada pembukaan perdagangan Senin pagi, 21 September 2026. Pelemahan mata uang Garuda ini dipicu oleh ketidakpastian pasar global serta meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.

Mengutip data Bloomberg, rupiah berada di level Rp17.791 per USD pada pagi ini. Angka tersebut mencatatkan pelemahan sebesar 33 poin atau setara 0,19 persen dibandingkan dengan posisi penutupan perdagangan sebelumnya di level Rp17.758 per USD.

Sementara itu, data dari Yahoo Finance mencatat pergerakan kurs rupiah berada di level Rp17.740 per USD, atau menguat tipis dibandingkan pembukaan perdagangan Jumat pekan lalu yang berada di angka Rp17.748 per USD.

Proyeksi Pasar dan Sentimen Global

Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi memprediksi pergerakan rupiah sepanjang hari ini akan cenderung fluktuatif dengan kecenderungan melemah. Ia memperkirakan pergerakan kurs rupiah melemah pada rentang Rp17.750 hingga Rp17.800 per USD.

Beberapa sentimen utama yang menekan pergerakan rupiah antara lain:

  • Eskalasi Geopolitik: Dinamika konflik di Timur Tengah yang bergeser fokusnya dari Selat Hormuz menuju Laut Merah dan Selat Al-Mandeb.
  • Politik AS: Ketidakpastian arah kebijakan politik di Amerika Serikat menjelang pelaksanaan pemilu sela pada bulan November mendatang.
  • Kebijakan Moneter: Antisipasi arah kebijakan suku bunga dari Bank Sentral AS (The Fed).

Faktor Ekonomi Domestik dan APBN

Dari dalam negeri, faktor utama yang memengaruhi dinamika rupiah berasal dari kondisi fiskal pemerintah. Hingga akhir Agustus 2026, defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) masih terjaga pada posisi 0,9 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Namun, untuk keseluruhan tahun, pemerintah memperkirakan defisit APBN hingga akhir tahun 2026 berpotensi berada di kisaran 2,85 persen PDB atau setara Rp734,3 triliun. Angka proyeksi tersebut sedikit melampaui target awal APBN sebesar 2,68 persen PDB.