Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali mengalami pelemahan pada pembukaan perdagangan awal pekan ini. Berdasarkan data Bloomberg, Senin, 19 Januari 2026, hingga pukul 09.27 WIB rupiah berada di level Rp16.918 per dolar AS.
Posisi tersebut menunjukkan pelemahan sebesar 31 poin atau setara 0,18 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya di level Rp16.887 per dolar AS. Sementara itu, mengacu pada data Yahoo Finance, rupiah pada waktu yang sama tercatat berada di level Rp16.876 per dolar AS.
Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi memprediksi pergerakan rupiah pada perdagangan hari ini akan berlangsung fluktuatif. Meski demikian, ia memperkirakan rupiah berpotensi kembali melemah hingga menembus level psikologis Rp17.000 per dolar AS.
“Untuk perdagangan hari ini, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah hingga menembus Rp17.000, dengan rentang pergerakan harian di level Rp16.840 per USD hingga Rp17.000 per USD,” ujar Ibrahim.
Di sisi lain, Ibrahim menilai konsumsi rumah tangga masih menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi nasional, dengan kontribusi yang didominasi oleh kelompok kelas menengah. Namun demikian, ia menyoroti kondisi kelas menengah yang saat ini mengalami tekanan dan mulai bergerak ke kelompok rentan.
“Kelas menengah di Indonesia mengalami kondisi tertekan dan bergerak menuju kelompok rentan,” jelasnya.
Oleh karena itu, menurut Ibrahim, pemerintah perlu memberikan stimulus yang lebih besar dan lebih luas kepada kelompok kelas menengah guna menjaga daya beli. Pasalnya, kelas menengah merupakan fondasi penting bagi pertumbuhan ekonomi nasional di tengah gejolak perekonomian global.
Selama ini, stimulus ekonomi pemerintah lebih banyak diarahkan kepada rumah tangga berpenghasilan rendah atau kelompok miskin, antara lain melalui bantuan sosial (bansos), Program Keluarga Harapan (PKH), serta bantuan langsung tunai (BLT).
Sementara itu, untuk kalangan menengah, pemerintah baru-baru ini menetapkan insentif pajak penghasilan (PPh) Pasal 21 bagi pekerja di sektor padat karya dan pariwisata dengan penghasilan di bawah Rp10 juta per bulan.
“Namun, stimulus tersebut baru diberlakukan untuk lima sektor, yakni industri alas kaki, tekstil dan pakaian jadi, furnitur, kulit dan barang dari kulit, serta sektor pariwisata,” tutur Ibrahim.
Ia menegaskan, pemerintah perlu memperluas cakupan maupun bentuk stimulus bagi kelas menengah, bahkan memberikan dukungan yang setara dengan stimulus yang selama ini diberikan kepada kelompok masyarakat berpenghasilan rendah, guna menjaga stabilitas ekonomi nasional ke depan.
Dikutip dari metrotvnews.com