Harga Minyak Dunia Kembali Menguat, Brent Capai USD106 per Barel

Harga Minyak Dunia Kembali Menguat, Brent Capai USD106 per Barel

Harga minyak dunia kembali menguat dalam perdagangan Asia pada Jumat, 15 Mei 2026, dan bergerak menuju kenaikan mingguan yang tajam di tengah kekhawatiran gangguan pasokan energi global.

Pasar energi masih berfokus pada penutupan Selat Hormuz serta perkembangan pembicaraan antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping di Beijing.

Selat Hormuz Masih Jadi Faktor Utama

Meskipun media pemerintah Iran melaporkan sekitar 30 kapal telah melintasi Selat Hormuz dalam pekan ini, aktivitas pelayaran masih jauh di bawah kondisi normal.

Operator kapal tanker disebut masih berhati-hati untuk kembali melakukan transit reguler karena tingginya risiko keamanan di kawasan tersebut.

Kondisi ini diperparah dengan adanya penyitaan kapal di dekat Teluk Oman serta patroli militer yang terus berlangsung di wilayah Timur Tengah.

Investor khawatir gangguan distribusi energi dari kawasan Teluk dapat berlangsung lebih lama dan memicu ketatnya pasokan minyak global.

Trump dan Xi Bahas Energi dan Konflik Iran

Pasar juga menaruh perhatian besar terhadap pertemuan tingkat tinggi antara Donald Trump dan Xi Jinping di Beijing.

Berdasarkan pernyataan Gedung Putih, kedua pemimpin sepakat bahwa Selat Hormuz harus tetap terbuka demi menjaga kelancaran aliran energi global.

Xi Jinping juga disebut menyatakan ketertarikan meningkatkan pembelian minyak mentah Amerika Serikat guna mendiversifikasi sumber energi dan mengurangi ketergantungan terhadap jalur perdagangan Teluk.

Analis menilai keterlibatan Tiongkok dalam diplomasi Iran membantu meredam lonjakan harga minyak yang lebih ekstrem dalam beberapa pekan terakhir.

Namun, sentimen pasar kembali memanas setelah Trump menyampaikan pernyataan keras terhadap Iran melalui media sosial Truth Social.

“Pemusnahan militer Iran akan dilanjutkan,” tulis Trump dalam unggahannya pada Jumat pagi.

Persediaan Minyak AS Turun

Harga minyak juga mendapat dukungan tambahan dari data Badan Informasi Energi AS yang menunjukkan persediaan minyak mentah AS turun 4,3 juta barel pekan lalu.

Penurunan tersebut lebih besar dibandingkan perkiraan analis dan mengindikasikan permintaan ekspor energi masih cukup kuat di tengah harga minyak yang tinggi.

IEA Peringatkan Risiko Kekurangan Pasokan

Sementara itu, Badan Energi Internasional atau IEA memperingatkan pasar minyak global berpotensi mengalami kekurangan pasokan signifikan hingga Oktober 2026.

Menurut IEA, kondisi tersebut bisa tetap terjadi bahkan jika konflik geopolitik di Timur Tengah mulai mereda dalam waktu dekat.

Ketidakpastian geopolitik, gangguan distribusi energi, dan tingginya permintaan global diperkirakan akan terus menjadi faktor utama yang mempengaruhi pergerakan harga minyak dunia dalam beberapa bulan mendatang.