Pergerakan Kurs Mata Uang: Rupiah Tertekan hingga Menyentuh Rp17.922 per Dolar AS

Pergerakan Kurs Mata Uang: Rupiah Tertekan hingga Menyentuh Rp17.922 per Dolar AS

Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka melemah pada perdagangan Kamis, 1 Oktober 2026. Mengutip data Bloomberg hingga pukul 09.40 WIB, rupiah berada di level Rp17.922 per USD, terkoreksi 28 poin atau setara 0,16 persen dari posisi penutupan sebelumnya di level Rp17.894 per USD.

Sementara itu, data Yahoo Finance mencatat nilai tukar rupiah di level Rp17.872 per USD. Analis mata uang Ibrahim Assuabi memprediksi rupiah melemah hari ini secara fluktuatif pada rentang Rp17.890 hingga Rp17.940 per USD hingga penutupan perdagangan.

Negosiasi Selat Hormuz dan Sikap Pejabat The Fed

Ibrahim menjelaskan pergerakan rupiah hari ini sangat dipengaruhi oleh dinamika geopolitik Timur Tengah serta sinyal kebijakan moneter AS:

  • Perkembangan Diplomasi AS-Iran: Menlu Iran Abbas Araqchi telah menerima tanggapan AS via mediator Qatar terkait rencana tujuh hari pengembalian kepercayaan dan pembukaan Selat Hormuz. Meski komponen rencana disetujui, perbedaan pandangan berfokus pada urutan pelaksanaan langkah-langkah kesepakatan.
  • Prospek Suku Bunga The Fed: Presiden Fed New York John Williams menegaskan tidak terburu-buru menaikkan suku bunga. Sebaliknya, Gubernur Fed Barr dan Goolsbee tetap mendorong kalibrasi ulang serta antisipasi inflasi, yang memicu dinamika pasar obligasi AS.

Tiga Instrumen Intervensi BI dan Ketahanan APBN

Dari dalam negeri, Bank Indonesia (BI) memperkuat langkah intervensi guna meredam gejolak nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh level Rp18.000 per USD. BI mengandalkan tiga instrumen utama:

  • Transaksi Spot: Intervensi langsung di pasar valuta asing domestik.
  • Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF): Instrumen hedging bagi pelaku pasar guna memenuhi kewajiban impor yang dapat ditunda.
  • Non-Deliverable Forward (NDF): Menjaga kestabilan persepsi nilai tukar di pasar keuangan luar negeri.

Di sisi fiskal, Menteri Keuangan Suahasil Nazara menegaskan bahwa RAPBN 2027 dirancang secara pruden dan kredibel. APBN 2026 terus difungsikan secara fleksibel sebagai shock absorber untuk meredam dampak kenaikan harga minyak dunia, ancaman El Nino, serta gejolak fragmentasi perdagangan global.