Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mengawali perdagangan dengan penguatan tipis pada Selasa (7/7/2026). Penguatan mata uang Garuda terjadi di tengah pergerakan dolar AS yang cenderung datar akibat minimnya sentimen baru dari pasar global.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah dibuka di level Rp17.990 per dolar AS atau menguat lima poin setara 0,03 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya di level Rp17.995 per dolar AS.
Sementara itu, data Yahoo Finance menunjukkan rupiah berada di posisi Rp17.994 per dolar AS pada periode yang sama. Posisi tersebut lebih lemah dibandingkan pembukaan perdagangan sebelumnya yang berada di level Rp17.955 per dolar AS.
Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi memperkirakan pergerakan rupiah pada perdagangan hari ini masih akan fluktuatif dengan kecenderungan melemah. Ia memproyeksikan nilai tukar rupiah bergerak di kisaran Rp17.990 hingga Rp18.050 per dolar AS.
Menurut Ibrahim, tekanan terhadap rupiah masih berasal dari kombinasi sentimen global dan domestik. Dari eksternal, pelaku pasar masih mencermati perkembangan geopolitik di Eropa Timur serta negosiasi damai antara Amerika Serikat dan Iran yang berpotensi memengaruhi stabilitas kawasan Timur Tengah.
Selain itu, risiko geopolitik di kawasan Selat Hormuz juga masih menjadi perhatian investor. Pelaku pasar terus menimbang berbagai sinyal yang muncul dari Washington dan Teheran terkait keamanan jalur pelayaran strategis tersebut pascapergantian kepemimpinan.
Di sisi lain, dolar AS masih mendapat tekanan setelah rilis data ketenagakerjaan non-farm payroll (NFP). Namun, pelemahan mata uang Negeri Paman Sam tersebut tertahan oleh ekspektasi bahwa bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed), akan tetap mempertahankan kebijakan moneter ketat guna menjaga laju inflasi.
Dari dalam negeri, sentimen pasar juga dipengaruhi oleh laporan terbaru Fitch Ratings yang memberikan perhatian terhadap kerentanan kondisi ekonomi makro Indonesia. Selain itu, pelaku pasar turut mencermati data Badan Pusat Statistik (BPS) yang menunjukkan neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit sebesar US$1,61 miliar pada Mei 2026, mengakhiri tren surplus yang telah berlangsung selama 72 bulan berturut-turut.
Kombinasi berbagai faktor tersebut diperkirakan masih akan menjadi penentu arah pergerakan rupiah terhadap dolar AS sepanjang perdagangan hari ini.