Dolar AS Perkasa di Tengah Mandeknya Negosiasi Damai AS-Iran

Dolar AS Perkasa di Tengah Mandeknya Negosiasi Damai AS-Iran

Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) menguat pada perdagangan Selasa (28/4/2026) di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik serta penantian pasar terhadap keputusan suku bunga sejumlah bank sentral global.

Berdasarkan data Investing.com, indeks dolar AS yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama lainnya naik 0,2 persen ke level 98,64.

Sentimen Geopolitik Dorong Penguatan

Penguatan dolar AS dipicu oleh kebuntuan pembicaraan antara Amerika Serikat dan Iran terkait konflik yang telah berlangsung selama dua bulan terakhir. Presiden Donald Trump dilaporkan tidak puas dengan proposal Iran yang dinilai belum menyentuh isu utama terkait ambisi nuklir Teheran.

Laporan media menyebutkan bahwa proposal tersebut hanya berfokus pada pembukaan kembali Selat Hormuz tanpa membahas secara mendalam program nuklir Iran.

Trump juga menyatakan bahwa Iran tengah berada dalam kondisi sulit dan mendesak pembukaan Selat Hormuz sebagai bagian dari upaya mencari solusi atas situasi internal mereka.

Yen Melemah Usai Keputusan BoJ

Di sisi lain, yen Jepang mengalami pelemahan setelah Bank of Japan (BoJ) memutuskan untuk mempertahankan suku bunga di level 0,75 persen. Pasangan USD/JPY tercatat naik 0,1 persen ke level 159,60.

Meski demikian, keputusan tersebut tidak sepenuhnya bulat, dengan tiga dari sembilan anggota dewan kebijakan moneter mendorong kenaikan suku bunga menjadi 1 persen. Perbedaan pendapat ini menjadi yang tertinggi sejak 2016.

BoJ juga memberikan sinyal potensi kenaikan suku bunga ke depan, seiring penyesuaian proyeksi pertumbuhan ekonomi yang lebih rendah dan peningkatan ekspektasi inflasi.

Fokus pada Kebijakan Bank Sentral Global

Pasar saat ini juga menantikan serangkaian keputusan suku bunga dari bank sentral utama dunia, termasuk Federal Reserve, Bank of England, dan Bank Sentral Eropa.

Ahli strategi valuta asing dari Macquarie, Thierry Wizman, menilai bank sentral negara maju (G-10) semakin mempertimbangkan dampak konflik geopolitik terhadap inflasi dan pasar tenaga kerja.

Namun demikian, ia memperkirakan sebagian besar bank sentral belum akan mengubah kebijakan dalam waktu dekat dan cenderung menunda penyesuaian suku bunga dengan mempertimbangkan ketidakpastian global.

Pergerakan Mata Uang Lain

Sementara itu, euro tercatat melemah 0,1 persen ke level USD1,1713. Poundsterling juga turun 0,1 persen menjadi USD1,3520.

Kondisi ini mencerminkan kehati-hatian investor dalam merespons dinamika geopolitik dan arah kebijakan moneter global.