Dolar Amerika Serikat (AS) menguat pada perdagangan Senin (10/8/2026) setelah melemah selama dua pekan. Penguatan greenback didorong meningkatnya permintaan terhadap aset safe haven di tengah kenaikan harga minyak dan ketidakpastian pasar global.
Mengutip Investing, Selasa (11/8/2026), indeks dolar AS yang mengukur kinerja dolar terhadap enam mata uang utama naik 0,3 persen menjadi 99,82. Sebelumnya, indeks tersebut telah melemah hampir 2 persen dalam dua pekan terakhir.
Pasar Menanti Data Inflasi AS
Pergerakan dolar turut dipengaruhi perubahan ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed). Laporan ketenagakerjaan AS yang lebih lemah dari perkiraan membuat investor mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga pada September.
Ekonomi AS kehilangan 23 ribu lapangan kerja pada Juli. Selain itu, data payroll Mei dan Juni direvisi turun secara kumulatif sebesar 103 ribu pekerjaan.
Meski pasar tenaga kerja menunjukkan tanda pelemahan, risiko inflasi masih menjadi perhatian, terutama akibat volatilitas harga minyak di tengah konflik yang melibatkan Iran.
Investor kini menunggu data Indeks Harga Konsumen (CPI) dan Indeks Harga Produsen (PPI) Juli yang masing-masing akan dirilis pada Rabu dan Kamis. Data penjualan ritel Juli juga akan menjadi perhatian pada Jumat.
Yen Jepang Kembali Tertekan
Yen Jepang melemah terhadap dolar dengan pasangan USD/JPY naik 0,9 persen menjadi 159,26. Pelemahan tersebut terjadi setelah yen sebelumnya menguat menyusul intervensi otoritas Jepang dan Amerika Serikat pada Juli.
Sementara itu, euro melemah 0,1 persen menjadi USD1,1541, sedangkan pound sterling menguat 0,1 persen menjadi USD1,3507.