Harga minyak dunia mengalami penurunan tajam pada perdagangan Senin, 27 Juli 2026, setelah Amerika Serikat (AS) dan Iran menghentikan aksi militer selama akhir pekan. Meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah membuat investor mengurangi premi risiko yang sebelumnya mendorong harga minyak ke level tertinggi dalam beberapa bulan terakhir.
Mengutip data Investing, harga minyak mentah Brent berjangka turun 5,5 persen menjadi USD91,44 per barel, setelah sempat merosot di bawah USD90 pada awal perdagangan. Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) berjangka melemah 3,1 persen ke level USD89,31 per barel.
Sebelumnya, harga Brent sempat menembus USD100 per barel pada pekan lalu akibat meluasnya konflik di kawasan Selat Hormuz hingga Laut Merah yang memicu kekhawatiran terhadap gangguan pasokan minyak dari Timur Tengah.
Ketegangan Geopolitik Mereda, Harga Minyak Berbalik Turun
Harga minyak berbalik melemah setelah Pemerintah Amerika Serikat menghentikan operasi militernya usai melancarkan serangan selama 13 malam berturut-turut. Washington menyatakan penghentian operasi dilakukan untuk membuka ruang bagi upaya diplomatik dalam meredakan konflik yang meningkat selama beberapa pekan terakhir.
Langkah tersebut mendapat respons positif dari Iran. Seorang pejabat Iran mengatakan kepada Reuters bahwa Teheran akan menangguhkan serangan balasan selama jeda operasi militer AS masih berlangsung. Kendati demikian, kedua negara tetap membuka kemungkinan melanjutkan aksi militer apabila proses diplomasi tidak menghasilkan kesepakatan.
Optimisme pasar juga didukung laporan pada Jumat yang menyebutkan Tiongkok tengah berupaya menghidupkan kembali pembicaraan damai antara Washington dan Teheran. Upaya tersebut meningkatkan harapan bahwa konflik dapat diselesaikan melalui jalur diplomasi.
Analis Pasar Senior IG, Tony Sycamore, menilai membaiknya prospek diplomasi, termasuk peluang diberlakukannya kembali nota kesepahaman terkait keamanan pelayaran di Selat Hormuz, mendorong pelaku pasar mengurangi premi risiko geopolitik yang sebelumnya tercermin dalam harga minyak.
Risiko Gangguan Pasokan Masih Membayangi
Meski ketegangan mulai mereda, pelaku pasar masih mencermati potensi gangguan pasokan minyak global. Selama akhir pekan, jumlah kapal komoditas yang melintasi Selat Hormuz dilaporkan mengalami penurunan.
Selain itu, aktivitas pelayaran di Selat Bab el-Mandeb juga melambat setelah serangan kelompok Houthi terhadap fasilitas minyak Arab Saudi.
Analis ANZ menilai pasar masih mampu mengantisipasi gangguan pasokan melalui kombinasi penurunan impor minyak mentah Tiongkok, pelepasan cadangan strategis, serta penggunaan jalur ekspor alternatif yang memungkinkan minyak mentah Arab Saudi dikirim tanpa melewati Selat Hormuz.
Namun, ANZ mengingatkan bahwa ruang penyangga tersebut mulai menyempit karena cadangan strategis terus berkurang, persediaan komersial semakin ketat, serta risiko gangguan pelayaran di Laut Merah dan Selat Bab el-Mandeb masih cukup tinggi. Kondisi tersebut berpotensi mendorong harga minyak kembali menguat apabila terjadi eskalasi baru yang mengganggu pasokan energi global.