Pep vs Sir Alex, Kisah Dua Legenda di Kota Manchester

Pep vs Sir Alex, Kisah Dua Legenda di Kota Manchester

Masih membekas jelas momen final Liga Champions 2011 di Stadion Wembley ketika Pep Guardiola membawa FC Barcelona menghancurkan Manchester United asuhan Alex Ferguson dengan skor 3-1.

Pada malam 28 Mei 2011 itu, Ferguson terlihat tidak biasa. Kamera menyorot tangannya yang bergetar ketika Barcelona tampil begitu dominan lewat permainan tiki-taka yang dipimpin Lionel Messi, Xavi, Andres Iniesta, dan David Villa.

Usai pertandingan, Ferguson melontarkan pengakuan langka.

“Belum pernah ada tim yang mempermalukan kami seperti itu.”

Kala itu, Guardiola baru menjalani musim ketiganya bersama Barcelona, tetapi sudah mengoleksi dua gelar Liga Champions dan delapan trofi. Gaya permainan tiki-taka yang ia populerkan menjadi simbol dominasi Barcelona di Eropa.

Setahun kemudian, Guardiola meninggalkan Barcelona dan mengambil jeda dari dunia kepelatihan di New York, Amerika Serikat. Dalam periode tersebut, Ferguson sempat mengundangnya makan malam untuk membahas sepak bola dan masa depan kepelatihan.

Dalam bukunya berjudul Leading, Ferguson mengaku sempat meminta Guardiola menghubunginya sebelum menerima tawaran klub lain. Namun, Guardiola akhirnya memilih bergabung dengan Bayern Munich pada 2013.

Guardiola kemudian justru memilih rival sekota Manchester United sebagai pelabuhan berikutnya. Pada Februari 2016, Manchester City resmi menunjuk Guardiola sebagai pelatih anyar menggantikan Manuel Pellegrini.

Musim Pertama Guardiola Tanpa Trofi

Guardiola memulai kariernya di Manchester City dengan impresif setelah memenangi 10 pertandingan awal di semua kompetisi. Namun, performa City perlahan menurun.

Salah satu titik terburuk terjadi saat Manchester City kalah telak 0-4 dari Everton di Goodison Park. Kekalahan tersebut menjadi kekalahan terbesar Guardiola di liga sepanjang karier kepelatihannya saat itu.

Untuk pertama kalinya sebagai pelatih, Guardiola mengakhiri musim tanpa satu pun trofi. Manchester City hanya finis di posisi ketiga Premier League musim 2016/2017.

The Centurions dan Dominasi Premier League

Musim 2017/2018 menjadi titik balik Guardiola bersama Manchester City. City menjuarai Premier League dengan raihan 100 poin dan mencetak 106 gol, sebuah rekor yang belum pernah dicapai klub mana pun di Liga Inggris.

Prestasi itu membuat skuad City dijuluki The Centurions.

Dominasi City berlanjut pada musim berikutnya ketika mereka meraih treble domestik berupa Premier League, FA Cup, dan EFL Cup pada 2018/2019.

Manchester City juga mencatat sejarah sebagai klub pertama di Inggris yang mampu memenangi empat gelar Premier League secara beruntun hingga musim 2023/2024.

Liga Champions dan Treble Bersejarah

Meski mendominasi kompetisi domestik, Liga Champions sempat menjadi “utang” Guardiola bersama Manchester City.

City mencapai final Liga Champions pertama mereka pada musim 2020/2021, tetapi kalah 0-1 dari Chelsea FC.

Penantian itu akhirnya berakhir pada Juni 2023 ketika Manchester City mengalahkan Inter Milan 1-0 di final Liga Champions lewat gol Rodri di Istanbul.

Kemenangan tersebut memastikan treble bersejarah setelah City sebelumnya menjuarai Premier League dan FA Cup pada musim yang sama.

Guardiola pun menjadi pelatih pertama yang berhasil meraih treble Eropa bersama dua klub berbeda setelah sebelumnya melakukannya bersama Barcelona pada 2009.

Menjelang final tersebut, Ferguson bahkan mengirim pesan dukungan kepada Guardiola, sebuah simbol hubungan unik antara dua pelatih legendaris itu.

Rivalitas Guardiola dan Jurgen Klopp

Era Guardiola di Premier League juga ditandai rivalitas sengit dengan Jurgen Klopp bersama Liverpool FC.

Selama bertahun-tahun, duel Manchester City kontra Liverpool dianggap sebagai persaingan terbaik dalam sejarah modern Premier League.

Klopp menjadi manajer dengan jumlah kemenangan terbanyak atas Guardiola, sementara Guardiola juga mencatat kemenangan terbanyaknya atas Klopp dibanding pelatih lain.

Guardiola bahkan menyebut Klopp sebagai rival terbesar sepanjang karier kepelatihannya.

Guardiola Tinggalkan Manchester City pada 2026

Setelah menjalani musim 2024/2025 yang sulit, Guardiola sempat memperpanjang kontraknya hingga 2027. Namun, pada 22 Mei 2026, Manchester City resmi mengumumkan kepergian Guardiola dari Etihad Stadium.

Dalam satu dekade kepemimpinannya, Guardiola mempersembahkan 20 trofi untuk Manchester City, termasuk:

  • 6 gelar Premier League
  • 3 FA Cup
  • 5 Carabao Cup
  • 1 Liga Champions
  • 1 UEFA Super Cup
  • 1 FIFA Club World Cup

Guardiola meninggalkan Manchester City dengan catatan 416 kemenangan dari 592 pertandingan serta rasio kemenangan mencapai 70,3 persen.

Menjelang laga kandang terakhirnya melawan Aston Villa, Guardiola kembali menerima pesan suara dari Sir Alex Ferguson.

Guardiola mengaku masih kesulitan memahami aksen Skotlandia Ferguson, sama seperti saat pertemuan mereka di New York lebih dari satu dekade sebelumnya.

“Saya sangat merindukan Johan Cruyff. Tapi saya senang Sir Alex, pelatih terbaik itu, masih bisa menyaksikan ini,” ujar Guardiola.