Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menguat pada pembukaan perdagangan Rabu, 6 Mei 2026. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah hingga pukul 09.51 WIB berada di level Rp17.389 per USD, menguat 35 poin atau sekitar 0,20 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp17.424 per USD.
Sementara itu, data dari Yahoo Finance menunjukkan rupiah berada di level Rp17.420 per USD pada waktu yang sama.
Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi memperkirakan pergerakan rupiah sepanjang hari ini akan cenderung fluktuatif, namun berpotensi ditutup melemah di kisaran Rp17.420 hingga Rp17.460 per USD.
Menurut Ibrahim, sentimen pasar masih rapuh akibat meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Teluk. Ketegangan kembali memanas setelah terjadi pertukaran serangan antara Amerika Serikat dan Iran yang memperebutkan kendali atas jalur pelayaran strategis.
Situasi ini memperburuk kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi global. Serangan yang menyasar infrastruktur di Uni Emirat Arab, termasuk terminal minyak di Fujairah, turut meningkatkan ketidakpastian.
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump meluncurkan inisiatif bertajuk “Proyek Kebebasan” yang bertujuan membantu kapal-kapal komersial melintasi jalur aman di kawasan Teluk, khususnya di Selat Hormuz. Meski demikian, langkah tersebut dinilai belum mampu meredakan risiko geopolitik secara menyeluruh.
Kondisi tersebut berdampak pada pasar energi global dan mendorong kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS. Hal ini juga memberikan tekanan tambahan terhadap aset lain, termasuk mata uang negara berkembang.
Di dalam negeri, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2026 mencapai 5,61 persen secara tahunan (year on year/yoy). Konsumsi rumah tangga menjadi pendorong utama, didukung oleh mobilitas masyarakat selama periode libur nasional dan hari besar keagamaan.
Berbagai stimulus pemerintah, seperti pemberian tunjangan hari raya (THR), diskon transportasi, serta kebijakan suku bunga yang tetap terjaga, turut mendorong daya beli masyarakat. Selain itu, jumlah perjalanan wisatawan nusantara juga tercatat meningkat 13,14 persen secara tahunan.
Meskipun ditopang fundamental domestik yang cukup kuat, pergerakan rupiah masih sangat dipengaruhi oleh dinamika global, khususnya terkait geopolitik dan kebijakan moneter Amerika Serikat.