World Health Organization (WHO) mencatat kanker menjadi salah satu penyebab utama kematian pada anak dan remaja di dunia. Setiap tahun, sekitar 400.000 kasus baru terdiagnosis pada kelompok usia 0–19 tahun.
Peluang kesembuhan pasien anak sangat dipengaruhi oleh wilayah tempat mereka tinggal. Di negara berpendapatan tinggi, lebih dari 80 persen anak penderita kanker dapat pulih. Sebaliknya, di negara berpendapatan rendah dan menengah, angka kesembuhan masih di bawah 30 persen.
Perbedaan ini dipicu berbagai faktor, mulai dari keterlambatan dan salah diagnosis, keterbatasan akses pengobatan, putus terapi, hingga kematian akibat efek samping obat.
Ketimpangan Sistem Kesehatan Global
CEO St. Jude Children’s Research Hospital, James R. Downing, menilai peluang bertahan hidup anak dengan kanker sangat ditentukan oleh tempat kelahirannya.
“Kesempatan seorang anak untuk bertahan hidup dari kanker sangat ditentukan oleh tempat kelahirannya. Ini menjadi salah satu ketimpangan paling mencolok dalam sistem kesehatan global,” ujarnya.
Senada, Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, menyatakan bahwa banyak kematian akibat kanker anak sebenarnya dapat dicegah apabila layanan kesehatan memadai.
“Selama ini, anak-anak yang menderita kanker tidak memiliki akses yang memadai terhadap obat-obatan penyelamat nyawa,” kata Tedros.
Data WHO menunjukkan hanya 29 persen negara berpendapatan rendah yang memiliki ketersediaan obat kanker secara umum, dibandingkan 96 persen negara berpendapatan tinggi.
Jenis Kanker Anak yang Paling Umum
Beberapa jenis kanker yang paling sering ditemukan pada anak meliputi:
- Leukemia
- Tumor otak
- Limfoma
- Neuroblastoma
- Tumor Wilms
Para ahli menilai pengobatan yang tepat — termasuk kemoterapi, operasi, dan radioterapi — dapat memberikan peluang kesembuhan tinggi jika tersedia secara merata dan diakses sejak dini.
WHO menegaskan pentingnya memperluas akses obat esensial, memperkuat sistem diagnosis, serta memastikan keberlanjutan terapi guna menekan kesenjangan angka kematian kanker anak di berbagai negara.
Dikutip dari RRI.co.id