Harga emas dunia diperkirakan masih memiliki peluang melanjutkan penguatan pada perdagangan Rabu, 17 Juni 2026. Dukungan dari faktor teknikal yang masih positif serta sentimen fundamental yang berpihak pada aset safe haven menjadi pendorong utama kenaikan logam mulia dalam jangka pendek.
Analis Dupoin Futures Geraldo Kofit mengatakan pergerakan emas atau Gold (XAU/USD) pada timeframe H4 masih menunjukkan tren bullish yang kuat. Hingga sesi perdagangan pagi, harga masih mampu bertahan di atas area support penting sehingga tekanan beli dinilai masih mendominasi pasar.
Menurut Geraldo, harga emas belum menunjukkan tanda-tanda pelemahan yang signifikan. Salah satu indikasinya terlihat dari belum adanya penutupan candle di bawah area support kedua yang selama ini berhasil dipertahankan.
“Dalam kondisi saat ini, struktur bullish masih tetap terjaga. Selama harga mampu bertahan di atas area support, peluang untuk melanjutkan kenaikan masih cukup besar,” ujar Geraldo.
Secara teknikal, harga emas telah membentuk swing low baru di area 4.328. Kondisi tersebut menjadi sinyal bahwa pelaku pasar kembali melakukan akumulasi beli ketika harga mendekati area support.
Apabila area support tersebut mampu dipertahankan, harga emas diperkirakan berpotensi menguji resistance terdekat di level 4.354. Jika momentum beli semakin kuat, penguatan dapat berlanjut menuju area resistance berikutnya di kisaran 4.369.
Selain itu, indikator Stochastic masih bergerak naik menuju area overbought atau jenuh beli. Meski demikian, hingga saat ini belum muncul sinyal pembalikan arah yang kuat sehingga momentum bullish masih dinilai mendominasi pergerakan harga emas.
Dari sisi fundamental, harga emas masih mendapat dukungan dari meningkatnya permintaan terhadap aset safe haven. Ketidakpastian ekonomi global, perlambatan pertumbuhan di sejumlah negara, serta berbagai risiko geopolitik membuat investor cenderung mencari instrumen investasi yang dianggap lebih aman.
Sentimen positif juga datang dari pelemahan dolar Amerika Serikat. Ketika dolar melemah, harga emas menjadi relatif lebih murah bagi investor yang menggunakan mata uang lain sehingga berpotensi meningkatkan permintaan.
Faktor pendukung lainnya adalah penurunan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat atau US Treasury Yield. Penurunan yield membuat biaya peluang untuk memiliki emas menjadi lebih rendah dibandingkan instrumen berbunga, sehingga daya tarik logam mulia meningkat.
Pasar juga mulai memperkirakan Federal Reserve berpotensi mengadopsi kebijakan moneter yang lebih longgar apabila data ekonomi Amerika Serikat menunjukkan perlambatan. Ekspektasi tersebut menjadi sentimen positif bagi emas karena biasanya diikuti pelemahan dolar AS.
Perhatian investor kini tertuju pada sejumlah indikator ekonomi AS, mulai dari data inflasi, pasar tenaga kerja, hingga aktivitas manufaktur. Jika data tersebut menunjukkan pelemahan, peluang penurunan suku bunga akan semakin besar dan dapat memberikan dorongan tambahan bagi harga emas.
Secara keseluruhan, prospek harga emas pada perdagangan hari ini masih dinilai positif. Kombinasi antara struktur teknikal yang bullish, tingginya permintaan aset safe haven, pelemahan dolar AS, penurunan yield obligasi, serta ekspektasi kebijakan Federal Reserve yang lebih dovish menjadi faktor utama yang menopang penguatan harga emas.
“Selama harga mampu bertahan di atas level support 4.328, peluang kenaikan menuju resistance 4.354 hingga 4.369 masih terbuka dalam jangka pendek,” kata Geraldo.