Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) melemah pada perdagangan Rabu (8/7/2026). Mata uang Garuda tertekan oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, meski data cadangan devisa Indonesia menunjukkan perbaikan.
Berdasarkan data Bloomberg hingga pukul 12.20 WIB, rupiah berada di level Rp18.010 per dolar AS, melemah 30 poin atau 0,17 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya di posisi Rp17.980 per dolar AS.
Sementara itu, data Yahoo Finance mencatat rupiah diperdagangkan di level Rp18.005 per dolar AS atau turun 22 poin setara 0,12 persen dari posisi sebelumnya sebesar Rp17.983 per dolar AS.
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai pelemahan rupiah dipengaruhi oleh meningkatnya eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah.
Menurut Lukman, sentimen negatif muncul setelah Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap Iran sebagai respons atas serangan terhadap kapal-kapal komersial di Selat Hormuz.
Mengutip laporan Sputnik, Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan operasi militer tersebut dilakukan sebagai balasan atas serangan Iran terhadap tiga kapal dagang yang melintas di Selat Hormuz.
Sebelumnya, pada Selasa (7/7/2026), media nasional Iran IRIB melaporkan kapal Qatar Al-Rekayyat yang melintasi Selat Hormuz melalui jalur Oman dengan pengawalan Angkatan Laut Amerika Serikat menjadi sasaran serangan setelah sejumlah peringatan disampaikan.
Di tengah tekanan eksternal tersebut, sentimen positif datang dari meningkatnya posisi cadangan devisa Indonesia.
Bank Indonesia (BI) melaporkan cadangan devisa Indonesia pada akhir Juni 2026 mencapai US$145,6 miliar, meningkat US$700 juta dibandingkan posisi akhir Mei 2026 yang sebesar US$144,9 miliar.
Peningkatan cadangan devisa terutama didorong oleh penerimaan pajak dan jasa. Di sisi lain, kenaikan tersebut terjadi di tengah pembayaran utang luar negeri pemerintah serta kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah yang dilakukan Bank Indonesia sebagai respons terhadap tingginya ketidakpastian di pasar keuangan global.
Posisi cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 5,5 bulan impor atau 5,4 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Angka tersebut juga berada jauh di atas standar kecukupan internasional yang berkisar tiga bulan impor.
Selain mencermati perkembangan geopolitik, pelaku pasar juga menantikan rilis data Indeks Kepercayaan Konsumen yang diperkirakan meningkat ke level 125.
Lukman memperkirakan nilai tukar rupiah pada perdagangan hari ini akan bergerak di kisaran Rp17.950 hingga Rp18.050 per dolar AS.