Evakuasi WNI di Timur Tengah, Pemprov Jabar Masih Menanti Instruksi

Evakuasi WNI di Timur Tengah, Pemprov Jabar Masih Menanti Instruksi

Pemerintah Provinsi Jawa Barat (Pemprov Jabar) menyatakan dalam posisi siaga penuh untuk mengantisipasi kemungkinan evakuasi massal warga Jawa Barat di kawasan Timur Tengah. Langkah ini diambil menyusul eskalasi konflik bersenjata antara blok Amerika Serikat (AS)-Israel melawan Iran yang kian mencekam sejak akhir Februari 2026.

Sekretaris Daerah (Sekda) Jabar, Herman Suryatman, menegaskan bahwa otoritas daerah saat ini berada dalam komando tunggal Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia (Kemenlu RI).

“Seluruh informasi terkait evakuasi WNI disampaikan melalui kanal khusus yang disiapkan pemerintah pusat. Per hari ini (3 Maret), belum ada perintah resmi evakuasi dari Kemenlu, namun kita terus bersiap,” ujar Herman, Rabu (4/3/2026).

Integrasi Data dan Skenario Terburuk

Pemprov Jabar melalui Badan Penghubung telah diintegrasikan ke dalam grup komunikasi strategis bertajuk “Evakuasi Pemulangan Timur Tengah” yang dikendalikan langsung pemerintah pusat. Tujuannya untuk memastikan sinkronisasi data dan kesiapan gerak apabila keputusan evakuasi massal diterbitkan dari Jakarta.

Saat ini, fokus utama adalah pemetaan detail jumlah warga Jabar yang berada di wilayah terdampak konflik. Data tersebut dihimpun dari masing-masing Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di negara-negara rawan.

Situasi di lapangan disebut sangat fluktuatif, khususnya di negara-negara seperti Qatar, Bahrain, Yordania, hingga Arab Saudi pasca-serangan balasan Iran ke sejumlah pangkalan militer AS.

KBRI Teheran Matangkan Rencana Darurat

Herman menyebutkan bahwa KBRI Teheran tengah mematangkan rencana darurat guna menjamin keselamatan Warga Negara Indonesia (WNI). Meski tensi meningkat, perwakilan RI di zona konflik masih memprioritaskan imbauan kewaspadaan tingkat tinggi sebelum instruksi pemulangan massal dikeluarkan.

Diketahui, operasi gabungan AS dan Israel melancarkan serangan besar ke Iran sejak Sabtu, 28 Februari 2026. Serangan tersebut dilaporkan menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei serta sejumlah petinggi militer Iran.

Sebagai balasan, Iran meluncurkan serangan ke Israel dan sejumlah pangkalan militer serta aset milik AS di negara-negara Teluk seperti Bahrain, Kuwait, Qatar, Uni Emirat Arab, dan Arab Saudi. Bahkan, setelah menyerang pangkalan militer AS di Arab Saudi, Iran memperluas target ke fasilitas AS lainnya di kawasan Timur Tengah.

Pemerintah Arab Saudi melaporkan Kedutaan Besar AS di Riyadh diserang dua drone yang menyebabkan kebakaran terbatas dan kerusakan ringan. Sejumlah negara pun mulai meminta warganya meninggalkan Arab Saudi.

Namun, proses evakuasi tidak mudah karena sebagian besar wilayah udara ditutup, menyebabkan banyak warga asing terjebak dan menunggu kepastian jalur pemulangan.

Pemprov Jabar menegaskan akan terus memperbarui data dan memperkuat koordinasi dengan pemerintah pusat guna memastikan keselamatan warga Jabar di Timur Tengah jika skenario evakuasi massal benar-benar dijalankan.