Performa tim nasional Portugal pada Piala Dunia 2026 kembali menjadi sorotan setelah kesulitan meraih hasil maksimal meski tampil dominan pada laga pembuka Grup K. Di tengah tekanan untuk membawa Selecao melangkah jauh di turnamen, perhatian publik juga tertuju pada persaingan abadi antara Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi yang kini semakin memanas.
Lionel Messi baru saja mencatatkan sejarah dengan menjadi pencetak gol terbanyak sepanjang masa di Piala Dunia setelah mengoleksi 18 gol. Kapten Argentina itu bahkan tampil impresif dengan mencetak lima gol hanya dalam dua pertandingan pertama Piala Dunia 2026, sekaligus membawa timnya lolos ke babak 32 besar.
Sebaliknya, Cristiano Ronaldo masih kesulitan memberikan dampak signifikan bagi Portugal. Pada laga melawan Republik Demokratik Kongo, Portugal memang mendominasi permainan dengan penguasaan bola mencapai 75,4 persen dan akurasi umpan 92,5 persen, namun hanya mampu menghasilkan tujuh tembakan ke arah gawang. Ironisnya, Kongo justru mencatatkan delapan percobaan tembakan.
Gol semata wayang Joao Neves pada menit keenam menjadi satu-satunya tembakan tepat sasaran Portugal dalam pertandingan tersebut. Dari sisi kualitas peluang, Portugal juga kalah dari Kongo. Nilai expected goals (xG) Portugal hanya mencapai 0,65, sementara Kongo mencatatkan 0,87.
Ronaldo sendiri gagal memaksimalkan tiga peluang yang dimilikinya. Striker Al Nassr itu hanya mencatatkan probabilitas gol sebesar 0,46, kalah dari penyerang Kongo Yoane Wissa yang mampu mencetak gol dengan xG 0,82 dari dua tembakan.
Catatan tersebut memperlihatkan bahwa masalah Portugal bukan hanya terletak pada ketajaman Ronaldo, tetapi juga kurangnya kreativitas dan kohesi permainan di lini serang. Meski memiliki pemain-pemain kreatif seperti Bruno Fernandes, Vitinha, Joao Neves, Rafael Leao, Francisco Conceicao, Pedro Neto, dan Nelson Semedo, Portugal masih kesulitan membongkar pertahanan lawan yang bermain rapat.
Tantangan berikutnya datang saat Portugal menghadapi Uzbekistan pada laga kedua Grup K yang berlangsung di Houston Stadium, Amerika Serikat. Pertandingan ini menjadi krusial bagi kedua tim dalam menjaga peluang lolos ke fase gugur.
Uzbekistan menunjukkan potensi berbahaya meski kalah 1-3 dari Kolombia pada laga pertama. Tim asuhan Fabio Cannavaro itu mampu mencatatkan xG sebesar 1,16, tertinggi di antara tim debutan Piala Dunia sejak Slovakia pada edisi 2010.
Portugal perlu mewaspadai peran gelandang Obatek Shukurov yang sukses mencatatkan 21 umpan antarlini serta striker Abbosbek Fayzullaev yang menjadi pemain paling aktif melakukan tekanan dengan 42 kali pressing sepanjang pertandingan melawan Kolombia.
Meski secara kualitas skuad Portugal lebih unggul, Roberto Martinez dituntut segera memperbaiki koordinasi dan efektivitas serangan timnya. Kohesi permainan menjadi faktor utama yang harus dibenahi apabila Portugal ingin mengamankan tiga poin sekaligus menjaga status sebagai salah satu kandidat kuat juara Piala Dunia 2026.
Jika gagal tampil lebih kompak dibandingkan saat menghadapi Kongo, Portugal berisiko kembali kehilangan poin penting dan semakin mempersulit langkah mereka menuju fase gugur.