Harga Bitcoin melemah pada perdagangan Jumat (24/7/2026) waktu setempat seiring meningkatnya sentimen menghindari risiko (risk-off) di pasar keuangan global. Memanasnya konflik di Timur Tengah serta kebijakan tarif baru Amerika Serikat (AS) mendorong investor mengurangi eksposur terhadap aset berisiko, termasuk aset kripto.
Mengutip Investing.com, Sabtu (25/7/2026), harga Bitcoin turun 1,5 persen menjadi USD64.158,5.
Meski mengalami koreksi, aset kripto dengan kapitalisasi pasar terbesar di dunia tersebut masih diperkirakan mencatatkan kenaikan sekitar 0,3 persen sepanjang pekan.
Pelemahan pasar saham global, khususnya sektor teknologi dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), turut mengurangi minat investor terhadap pasar kripto.
Konflik Timur Tengah dan Tarif AS Tekan Pasar
Tekanan terhadap Bitcoin muncul di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik. Konflik antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas setelah kelompok Houthi yang didukung Iran di Yaman mengklaim menyerang dua kapal Arab Saudi di Laut Merah.
Peristiwa tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap potensi gangguan pasokan minyak dunia dan mendorong lonjakan harga energi.
Kenaikan harga minyak selama sepekan turut memicu kekhawatiran terhadap inflasi global, yang berpotensi mendorong bank-bank sentral mempertahankan kebijakan moneter yang lebih ketat.
Di sisi lain, sentimen pasar semakin tertekan setelah pemerintahan Presiden AS Donald Trump memberlakukan tarif perdagangan baru terhadap 60 mitra dagang utama Amerika Serikat. Kebijakan tersebut mulai berlaku pada Jumat dan kembali memunculkan kekhawatiran mengenai meningkatnya tensi perdagangan global.
Meski dampaknya terhadap Bitcoin tidak bersifat langsung, meningkatnya risiko perlambatan ekonomi akibat gangguan pasokan energi dan kebijakan perdagangan dinilai dapat mengurangi minat investor terhadap aset spekulatif, termasuk kripto.
ETF Bitcoin Spot Batasi Pelemahan
Di tengah tekanan tersebut, Bitcoin masih memperoleh dukungan dari meningkatnya aliran dana ke produk Exchange-Traded Fund (ETF) Bitcoin Spot.
Berdasarkan data SoSoValue, ETF Bitcoin Spot mencatat arus masuk mingguan terbaik sejak awal Mei 2026.
Masuknya dana investor institusi tersebut membantu membatasi pelemahan harga Bitcoin sehingga aset digital ini masih mampu mencatatkan kinerja positif secara mingguan.
Mayoritas Aset Kripto Ikut Terkoreksi
Sejalan dengan pergerakan Bitcoin, mayoritas aset kripto lainnya juga diperdagangkan di zona merah.
Ethereum, aset kripto terbesar kedua berdasarkan kapitalisasi pasar, turun 1,2 persen menjadi USD1.860,26.
Sementara itu, XRP melemah 1,8 persen menjadi USD1,0898.
Aset kripto lainnya juga mengalami penurunan, dengan BNB terkoreksi 0,4 persen, Solana melemah 3,2 persen, dan Cardano turun 3,2 persen.
Di kelompok memecoin, Dogecoin turun 0,9 persen, sedangkan token $TRUMP terkoreksi 2,7 persen.
Pelaku pasar diperkirakan masih akan mencermati perkembangan konflik geopolitik, kebijakan perdagangan Amerika Serikat, serta arah kebijakan moneter bank sentral global yang berpotensi memengaruhi pergerakan Bitcoin dan pasar aset kripto dalam beberapa waktu ke depan.