Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Malang memprediksi kepadatan lalu lintas akan meningkat menjelang Lebaran 2026. Untuk mengantisipasi lonjakan kendaraan selama periode mudik dan libur Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah, Dishub telah memetakan sejumlah titik rawan kemacetan di wilayah tersebut.
Kepala Dishub Kota Malang, Widjaja Saleh Putra, mengatakan pemetaan dilakukan pada dua kategori utama, yakni kawasan pusat perdagangan dan jasa serta ruas jalan arteri yang berpotensi mengalami peningkatan volume kendaraan.
Menurutnya, sejumlah pusat perbelanjaan dan sentra oleh-oleh diperkirakan menjadi titik keramaian selama libur Lebaran.
“Untuk pusat perdagangan dan jasa, di antaranya kawasan MOG, Pasar Besar, Ramayana, Trend, pusat oleh-oleh, serta Matos,” ujar Widjaja, Kamis (5/3/2026).
Selain kawasan perdagangan, beberapa ruas jalan utama juga diprediksi mengalami kepadatan lalu lintas. Jalan yang masuk dalam kategori rawan macet antara lain Jalan Raden Intan, Jalan Gatot Subroto, kawasan Kacuk, Jalan Ahmad Yani, Jalan Borobudur hingga kawasan sekitar MCC sampai arah Sengkaling.
Widjaja menjelaskan, potensi kepadatan tersebut dipengaruhi posisi Kota Malang yang berfungsi sebagai kota destinasi wisata sekaligus kota lintasan menuju sejumlah daerah di sekitarnya.
“Kota Malang ini kota destinasi sekaligus kota lintasan, baik menuju Kota Batu, Kabupaten Malang, maupun arah Blitar. Jadi rekayasanya sangat tergantung situasi,” jelasnya.
Secara nasional, pergerakan masyarakat selama periode Lebaran 2026 diperkirakan mencapai 143,6 juta orang. Meski jumlah tersebut lebih rendah dibandingkan prediksi tahun sebelumnya, arus kendaraan tetap berpotensi menimbulkan kepadatan, terutama di daerah tujuan wisata.
Untuk Kota Malang sendiri, Dishub memperkirakan mobilitas keluar-masuk kendaraan akan mengalami penurunan sekitar 1,75 persen. Penurunan ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti musim penghujan serta kecenderungan masyarakat untuk menghemat biaya perjalanan.
“Untuk Kota Malang diperkirakan terjadi penurunan mobilitas sekitar 1,75 persen karena faktor musim hujan dan kecenderungan masyarakat menekan pengeluaran perjalanan,” kata Widjaja.
Dishub juga memprediksi puncak arus mudik akan terjadi dalam dua gelombang. Gelombang pertama diperkirakan berlangsung pada 13 hingga 15 Maret 2026, sedangkan gelombang kedua pada 18 hingga 19 Maret 2026 karena beririsan dengan perayaan Hari Raya Nyepi dan Idulfitri.
“Ada dua gelombang puncak arus mudik karena ada dua momen besar, yakni Nyepi dan Idulfitri,” ujarnya.
Untuk mengatasi potensi kepadatan, Dishub akan menerapkan rekayasa lalu lintas secara situasional sesuai kondisi di lapangan. Penutupan jalan secara total maupun sistem contraflow belum menjadi kebijakan tetap dan hanya akan diberlakukan jika terjadi kepadatan yang tidak terkendali.
Selain pengaturan lalu lintas, Dishub juga telah merampungkan penataan pedagang kaki lima (PKL) di kawasan Jalan Merdeka Selatan. Penataan tersebut dilakukan melalui tahap uji coba tanpa menutup akses kendaraan sepenuhnya.
“Untuk hari Sabtu, PKL ditempatkan di sisi utara atau merapat ke Alun-alun, sedangkan parkir berada di depan Kantor Pos,” jelas Widjaja.
Ia menambahkan, penataan PKL ke depan akan terus ditingkatkan, termasuk mendorong kolaborasi dengan pedagang di kawasan Jalan Agus Salim dan Jalan Merdeka Barat.
“Secara umum penataan arus lalu lintas dan PKL sudah bisa difasilitasi. Tinggal ditingkatkan dari sisi layanan, komoditas, serta kerapian,” ungkapnya.
Dikutip dari metrotvnews.com