Harga emas dunia mengalami koreksi tajam hampir empat persen pada perdagangan Senin (28/9/2026) waktu setempat. Tekanan berat pada logam mulia dipicu oleh kombinasi penguatan Dolar AS, lonjakan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS ke level tertinggi dalam belasan tahun, serta menguatnya ekspektasi kenaikan suku bunga The Federal Reserve.
Mengutip data Investing.com pada Selasa, 29 September 2026, harga emas spot anjlok 3,9 persen ke posisi USD4.116,60 per ons. Sementara itu, harga emas berjangka (futures) terkikis 4,1 persen menjadi USD4.145,76 per ons.
Kenaikan Yield Obligasi dan Dolar AS Tekan Logam Mulia
Tren kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS (US Treasury) berlanjut seiring meningkatnya biaya pinjaman global dan penyesuaian ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan moneter The Fed.
- Tenor 10 Tahun: Naik 5,4 basis poin ke level 5,241 persen—posisi tertinggi sejak Juni 2007.
- Tenor 30 Tahun: Melesat 4,9 basis poin menjadi 5,551 persen, melanjutkan penguatan dari pekan sebelumnya yang menyentuh level tertinggi sejak Juni 2004.
Kenaikan yield obligasi secara langsung mengikis daya tarik emas karena statusnya sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil bunga (non-yielding asset). Di saat yang sama, penguatan Indeks Dolar AS membuat emas menjadi relatif lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya.
Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga The Fed Melonjak
Pasca-kenaikan suku bunga acuan The Fed dua pekan lalu, data ekonomi AS yang solid serta lonjakan harga minyak mentah kian menguatkan spekulasi pengetatan moneter lanjutan.
Berdasarkan indikator CME FedWatch, probabilitas The Fed menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan Oktober melesat hingga 70 persen, naik signifikan dibandingkan posisi hari sebelumnya sebesar 64 persen dan 57 persen pada pekan lalu.
Dinamika Geopolitik Minyak Dunia dan Sikap Wait and See Pasar
Selain faktor moneter, pergerakan harga emas dunia merosot turut dipengaruhi oleh gejolak harga minyak mentah dunia. Kenaikan harga minyak sempat terakselerasi usai Presiden AS Donald Trump menolak proposal awal Iran terkait pembukaan Selat Hormuz.
Namun, harga minyak mentah Brent berjangka menahan kenaikan ke posisi USD106,15 per barel (naik 1,8 persen) setelah muncul laporan diplomasi bahwa AS mempertimbangkan pelonggaran sanksi serta pencairan aset Iran jika ada kemajuan pada program nuklir Teheran.
Kini pelaku pasar tengah mencermati rangkaian rilis data ekonomi vital AS sepanjang pekan ini guna memetakan arah suku bunga:
- Selasa: Data Lowongan Kerja dan Perputaran Tenaga Kerja (JOLTS) Agustus.
- Rabu: Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE) sebagai indikator utama inflasi The Fed.
- Jumat: Laporan Penggajian Nonpertanian (Nonfarm Payrolls) periode September.