Nilai Tukar Rupiah Dibuka ke Rp18.075 per Dolar AS Hari Ini

Nilai Tukar Rupiah Dibuka ke Rp18.075 per Dolar AS Hari Ini

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka melemah pada perdagangan Kamis (9/7/2026). Pelemahan mata uang Garuda dipengaruhi meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS, serta sentimen dari kondisi fiskal dalam negeri.

Berdasarkan data Bloomberg hingga pukul 09.40 WIB, rupiah berada di level Rp18.075 per dolar AS. Posisi tersebut melemah 61 poin atau 0,34 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya di level Rp18.014 per dolar AS.

Sementara itu, data Yahoo Finance menunjukkan rupiah diperdagangkan di kisaran Rp18.000 per dolar AS pada waktu yang sama.

Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi memproyeksikan pergerakan rupiah masih akan berlangsung fluktuatif dengan kecenderungan melemah sepanjang perdagangan hari ini.

“Untuk perdagangan hari ini, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp18.010 per USD hingga Rp18.060 per USD,” ujar Ibrahim.

Eskalasi Konflik AS-Iran Jadi Sentimen Utama

Menurut Ibrahim, pergerakan rupiah masih dibayangi meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran setelah Komando Pusat AS (CENTCOM) kembali melancarkan serangan terhadap Iran sebagai respons atas serangan terhadap pelayaran komersial di kawasan Selat Hormuz.

Ketegangan tersebut kembali memunculkan kekhawatiran terhadap potensi gangguan distribusi minyak dunia melalui salah satu jalur pelayaran energi paling strategis di dunia.

Selain itu, keputusan Amerika Serikat mencabut kebijakan yang sebelumnya memungkinkan Iran menjual minyak ke pasar internasional turut memperbesar potensi pengetatan pasokan minyak global.

Iran juga dilaporkan menyerang sejumlah kapal yang melintasi Selat Hormuz dalam beberapa hari terakhir, sehingga meningkatkan ketidakpastian pasar sekaligus memudarkan harapan terhadap kelanjutan proses perdamaian kedua negara.

Dari sisi global, kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun menjadi 4,525 persen turut memberikan tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Meski demikian, pelaku pasar masih memperkirakan peluang kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve pada pertemuan Juli relatif kecil. Berdasarkan CME FedWatch Tool, probabilitas kenaikan suku bunga pada September mendekati 60 persen.

Defisit APBN dan Cadangan Devisa Jadi Sorotan

Dari dalam negeri, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga Semester I-2026 mencatat defisit sebesar Rp196,5 triliun atau setara 0,76 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Pendapatan negara tercatat mencapai Rp1.459,4 triliun, sedangkan realisasi belanja negara sebesar Rp1.656 triliun. Nilai defisit tersebut meningkat dibandingkan posisi Mei 2026 yang mencapai Rp180,4 triliun atau 0,70 persen terhadap PDB.

Meski demikian, secara tahunan defisit Semester I-2026 masih lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai 0,84 persen terhadap PDB.

Ibrahim menilai pelemahan nilai tukar rupiah berpotensi memperbesar tekanan terhadap APBN karena dapat meningkatkan belanja negara lebih cepat dibandingkan pertumbuhan penerimaan.

Sementara itu, Bank Indonesia melaporkan posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Juni 2026 meningkat menjadi USD145,6 miliar dari USD144,9 miliar pada akhir Mei 2026.

Kenaikan cadangan devisa tersebut ditopang oleh penerimaan pajak dan jasa di tengah pembayaran utang luar negeri pemerintah serta kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah yang dilakukan Bank Indonesia.

Cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 5,5 bulan impor atau 5,4 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, sekaligus berada di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor sehingga dinilai masih mampu menjaga ketahanan sektor eksternal dan stabilitas sistem keuangan nasional.