Konflik AS-Iran Dorong Penguatan Dolar AS ke Puncak Mingguan

Konflik AS-Iran Dorong Penguatan Dolar AS ke Puncak Mingguan

Dolar Amerika Serikat (AS) menguat dan bertahan di level tertinggi dalam sepekan terhadap mayoritas mata uang utama pada perdagangan Asia, Rabu (8/7/2026). Penguatan mata uang Negeri Paman Sam didorong meningkatnya permintaan terhadap aset safe haven setelah eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah kembali memanas.

Mengutip data Investing.com, indeks dolar AS (DXY), yang mengukur pergerakan dolar terhadap enam mata uang utama dunia, berada di level 101,18. Posisi tersebut menjadi yang tertinggi sejak 2 Juli 2026.

Penguatan dolar terjadi setelah Amerika Serikat melancarkan gelombang serangan baru terhadap Iran. Pemerintah AS juga mencabut izin yang memungkinkan Iran menjual minyak ke pasar internasional sebagai respons atas serangan terhadap tiga kapal tanker di Selat Hormuz.

Meningkatnya ketegangan geopolitik memicu lonjakan permintaan terhadap aset yang dinilai aman di tengah meningkatnya ketidakpastian global.

Analis Westpac menilai kondisi tersebut kembali memunculkan kekhawatiran terhadap keberlanjutan kesepakatan damai yang sebelumnya telah tercapai di kawasan Timur Tengah.

Menurut analis Westpac, perhatian pasar kini juga tertuju pada potensi peningkatan inflasi global yang mendorong kenaikan imbal hasil obligasi di berbagai negara.

Di sisi lain, harga minyak mentah turut melanjutkan penguatannya. Harga minyak Brent naik 2,6 persen menjadi US$76,12 per barel pada awal perdagangan Asia, memperpanjang reli untuk hari kedua berturut-turut seiring meningkatnya risiko gangguan pasokan energi.

Pada pasar valuta asing, dolar Selandia Baru menguat 0,1 persen menjadi US$0,5681 menjelang keputusan suku bunga Bank Sentral Selandia Baru yang diperkirakan akan menaikkan suku bunga acuan untuk pertama kalinya dalam lebih dari tiga tahun.

Sementara itu, dolar AS menguat 0,1 persen terhadap yen Jepang ke level 162,28 yen. Sebelumnya, anggota Dewan Bank of Japan (BOJ), Toichiro Asada, menyatakan bank sentral masih membutuhkan bukti bahwa inflasi didorong oleh peningkatan permintaan sebelum mempertimbangkan kenaikan suku bunga lanjutan.

Di Eropa, euro melemah 0,1 persen ke level US$1,1405, sedangkan poundsterling Inggris turun 0,1 persen menjadi US$1,3353. Adapun dolar Australia bergerak relatif stabil di posisi US$0,6926.

Sementara itu, pasar aset digital bergerak melemah. Bitcoin turun 0,2 persen ke level US$63.518,35, sedangkan Ether terkoreksi 0,5 persen menjadi US$1.774,45.

Pelaku pasar diperkirakan akan terus mencermati perkembangan konflik di Timur Tengah, pergerakan harga minyak, serta arah kebijakan bank sentral utama dunia yang berpotensi memengaruhi volatilitas pasar keuangan global dalam beberapa waktu ke depan.