Harga minyak dunia mencatat kenaikan tipis pada perdagangan awal Selasa, 9 Juni 2026, di tengah ketidakpastian situasi geopolitik Timur Tengah. Meski Iran dan Israel telah menyatakan penghentian sementara serangan militer, pasar masih mencermati potensi kembalinya eskalasi konflik yang dapat mengganggu pasokan energi global.
Berdasarkan data Investing.com, harga minyak mentah Brent untuk kontrak berjangka naik 13 sen atau 0,14 persen menjadi USD94,38 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menguat 11 sen atau 0,12 persen ke level USD91,41 per barel.
Kenaikan tersebut terjadi setelah harga minyak sempat berfluktuasi tajam pada sesi perdagangan sebelumnya. Pada awal perdagangan Senin, harga minyak melonjak hingga lima persen menyusul meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap konflik yang kembali memanas antara Israel dan Iran serta serangan yang terjadi di Lebanon.
Namun, penguatan tersebut kemudian berkurang setelah militer Iran mengumumkan berakhirnya operasi militer terhadap Israel, sehingga meredakan sebagian kekhawatiran investor terhadap risiko gangguan pasokan minyak global.
Iran dan Israel Hentikan Serangan
Iran dan Israel menyatakan telah menghentikan serangan satu sama lain setelah adanya seruan dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump agar kedua pihak segera menghentikan aksi militer.
Meski demikian, situasi masih belum sepenuhnya stabil. Pemerintah Iran menegaskan akan kembali melakukan serangan apabila Israel melanjutkan operasi militernya terhadap kelompok Hizbullah di Lebanon.
Di sisi lain, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan negaranya akan memberikan respons tegas apabila Iran kembali melancarkan serangan.
Pernyataan dari kedua pihak tersebut membuat pasar energi tetap waspada karena potensi konflik yang kembali meningkat masih dapat mengancam stabilitas kawasan Timur Tengah yang merupakan salah satu wilayah penghasil minyak terbesar di dunia.
Dalam wawancara dengan Axios yang dipublikasikan pada Senin, Presiden Donald Trump mengungkapkan bahwa dirinya telah memperingatkan Netanyahu agar tidak memperluas konflik dengan Iran. Trump menilai langkah tersebut berisiko membuat Israel menghadapi konsekuensi yang lebih besar di tingkat internasional.
Selat Hormuz Jadi Faktor Kunci
Perhatian pasar juga tertuju pada Selat Hormuz yang menjadi jalur vital perdagangan energi global. Sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melewati perairan strategis tersebut sehingga setiap gangguan keamanan di kawasan berpotensi memengaruhi harga energi secara signifikan.
Dalam upaya meredakan ketegangan, Amerika Serikat disebut menjadikan pembukaan kembali akses penuh Selat Hormuz sebagai salah satu poin penting dalam pembahasan perdamaian dengan Iran.
Kekhawatiran pasar semakin meningkat setelah militer AS pada Senin dilaporkan menghentikan sebuah kapal tanker minyak tanpa muatan di Teluk Oman. Kapal tersebut disebut berupaya menuju pelabuhan Iran dan dianggap melanggar blokade yang masih diberlakukan terhadap negara tersebut.
Pasar Pantau Risiko Pasokan Global
Pelaku pasar energi saat ini masih menimbang dua faktor utama yang memengaruhi arah harga minyak. Di satu sisi, adanya penghentian sementara serangan antara Iran dan Israel membantu meredakan kekhawatiran terhadap pasokan minyak global.
Namun di sisi lain, ancaman konflik yang sewaktu-waktu dapat kembali meningkat membuat premi risiko geopolitik tetap tinggi. Kondisi ini menjadi alasan mengapa harga minyak masih bertahan di level yang relatif tinggi meskipun kenaikannya terbatas.
Analis menilai pergerakan harga minyak dalam beberapa hari ke depan akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan hubungan Iran-Israel, keamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz, serta langkah diplomatik yang dilakukan Amerika Serikat untuk menjaga stabilitas kawasan Timur Tengah.
Dengan ketidakpastian yang masih tinggi, pasar energi global diperkirakan tetap bergerak volatil seiring investor terus memantau perkembangan geopolitik dan dampaknya terhadap pasokan minyak dunia.