Menpar: Waisak Menjadi Momentum Menumbuhkan Kebajikan dan Toleransi

Menpar: Waisak Menjadi Momentum Menumbuhkan Kebajikan dan Toleransi

Menteri Pariwisata RI, Widiyanti Putri Wardhana, mengajak seluruh masyarakat menjadikan peringatan Hari Raya Tri Suci Waisak 2570 Buddhist Era (BE) sebagai momentum untuk memperkuat nilai-nilai kebajikan, toleransi, dan persaudaraan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Menurut Widiyanti, nilai-nilai universal yang terkandung dalam perayaan Waisak tidak hanya menjadi fondasi spiritual umat Buddha, tetapi juga dapat menjadi pedoman moral dalam membangun kehidupan yang damai, harmonis, dan penuh cinta kasih di tengah keberagaman Indonesia.

“Di hari yang penuh berkah dan hikmah ini, kita kembali diingatkan pada esensi luhur Hari Suci Waisak. Nilai-nilai universal yang terkandung di dalamnya bukan sekadar fondasi spiritual, melainkan juga kompas moral yang menuntun kita untuk hidup dalam kedamaian, ketenteraman, dan cinta kasih tanpa batas. Keberagaman dan toleransi adalah identitas sekaligus kekuatan sejati Indonesia,” ujar Widiyanti dalam keterangannya di Jakarta, Senin (1/6/2026).

Perayaan Waisak 2570 BE tahun ini mengusung tema “Dharma Sebagai Sumber Moral dan Kebijaksanaan”. Tema tersebut mengajak masyarakat untuk melakukan refleksi diri, mempererat persaudaraan, serta menjaga kelestarian lingkungan demi menciptakan kehidupan yang damai dan harmonis.

Puncak perayaan berlangsung di Candi Borobudur pada Minggu (31/5/2026). Salah satu agenda yang paling dinantikan adalah pelepasan 2.570 lampion yang diikuti tidak hanya oleh umat Buddha, tetapi juga wisatawan dari berbagai daerah.

Pelepasan lampion tersebut memiliki makna simbolis sebagai penerangan kehidupan, pelepasan energi negatif, penyampaian doa, serta harapan untuk terciptanya dunia yang damai dan penuh kebijaksanaan.

Perayaan Waisak 2026 diselenggarakan oleh Perwakilan Umat Buddha Indonesia bersama Majelis Agama Buddha Mahanikaya Indonesia dengan dukungan pemerintah pusat maupun daerah.

Ketua Umum DPP WALUBI, Hartati Murdaya, menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam menyukseskan rangkaian perayaan Waisak tahun ini.

“Dukungan tersebut memberikan harapan besar bagi terwujudnya kehidupan beragama yang harmonis, rukun, dan damai sehingga pembangunan bangsa dapat terus berjalan dengan baik,” ujar Hartati.

Dalam kesempatan yang sama, Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka menegaskan bahwa perayaan Waisak di Borobudur tidak hanya menjadi perayaan keagamaan, tetapi juga simbol kuat keberagaman dan persatuan Indonesia.

Menurut Gibran, nilai-nilai luhur Buddha seperti cinta kasih (Metta), kasih sayang (Karuna), dan kebijaksanaan (Panna) sangat relevan untuk menjawab berbagai tantangan kehidupan modern yang semakin kompleks.

“Untuk itu, mari kita wariskan kepada anak dan cucu kita Indonesia yang lebih rukun, lebih adil, lebih sejahtera, dan lebih bermartabat,” kata Gibran.

Sementara itu, Menteri Agama RI Nasaruddin Umar menyebut tingkat kerukunan umat beragama di Indonesia saat ini berada dalam kondisi yang sangat baik. Berdasarkan data Kementerian Agama, Indeks Kerukunan Umat Beragama (KUB) nasional telah berada di atas 76 persen.

“Angka ini merefleksikan bahwa secara makro kohesi sosial dan toleransi antarumat beragama di Indonesia berada dalam kondisi yang sangat sehat. Angka itu harus dapat bertransformasi menjadi kedaulatan moral,” ujar Nasaruddin.

Ia berharap momentum Waisak dapat mendorong setiap individu membangun kedamaian dalam dirinya, karena perdamaian dunia berawal dari ketenangan dan harmoni yang tumbuh dari setiap manusia.

Selain memiliki makna spiritual yang mendalam, perayaan Waisak juga menjadi daya tarik wisata unggulan yang mampu menarik kunjungan wisatawan domestik maupun mancanegara setiap tahun. Hal ini menunjukkan bahwa nilai-nilai spiritual, budaya, dan pariwisata dapat berjalan beriringan dalam memperkuat citra Indonesia sebagai bangsa yang menghargai keberagaman.

Rangkaian Waisak 2026 berlangsung sepanjang Mei dan diawali dengan kegiatan karya bakti serentak di berbagai taman makam pahlawan sebagai bentuk penghormatan kepada para pejuang kemerdekaan. Beragam kegiatan sosial, aksi lingkungan, kegiatan spiritual, hingga pelepasan lampion perdamaian turut mewarnai perayaan tahun ini.