Dolar AS melemah pada perdagangan Senin, 18 Mei 2026, seiring meredanya aksi jual obligasi global dan minimnya perkembangan diplomasi antara Amerika Serikat dan Iran.
Dilansir dari Investing.com, Selasa (19/5/2026), indeks dolar AS yang mengukur kekuatan dolar terhadap enam mata uang utama dunia turun 0,3 persen ke level 99,19.
Meski melemah, indeks dolar sebelumnya mencatat kinerja mingguan terbaik dalam lebih dari sembilan bulan. Penguatan tersebut dipicu meningkatnya ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga global.
Imbal Hasil Obligasi Global Mulai Stabil
Tekanan di pasar obligasi global yang sempat melonjak tajam pekan lalu mulai mereda pada Senin. Sebelumnya, imbal hasil obligasi pemerintah di sejumlah negara utama mencetak level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.
Kenaikan signifikan terjadi pada obligasi pemerintah Inggris tenor 30 tahun, obligasi Jepang tenor 30 tahun, serta obligasi Amerika Serikat tenor 10 tahun dan 30 tahun.
Aksi jual obligasi dipicu data inflasi dari berbagai negara ekonomi utama, termasuk Amerika Serikat. Lonjakan harga minyak akibat perang Iran dan penutupan Selat Hormuz dinilai memberikan tekanan besar terhadap harga konsumen dan produsen global.
Kondisi tersebut membuat pasar memperkirakan bank sentral dunia akan mempertahankan bahkan menaikkan suku bunga.
Pada perdagangan Senin, imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun tercatat naik hampir 1 basis poin menjadi 4,608 persen. Sementara itu, imbal hasil obligasi tenor 30 tahun relatif stabil di level 5,127 persen.
Pasar Prediksi The Fed Berpotensi Naikkan Suku Bunga
Berdasarkan alat CME FedWatch, peluang kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve masih tetap tinggi dalam setiap pertemuan kebijakan moneter yang tersisa pada tahun ini.
The Fed saat ini berada dalam masa transisi kepemimpinan. Kevin Warsh diperkirakan akan dilantik sebagai ketua baru Federal Reserve oleh Presiden Donald Trump pada Jumat mendatang.
Kepala ekonom Moody’s Analytics, Mark Zandi, menilai perang Iran telah memperburuk tekanan ekonomi global melalui lonjakan harga energi dan meningkatnya ekspektasi inflasi.
“Imbal hasil obligasi Treasury 10 tahun melonjak menjadi 4,6 persen, yang berada di ujung atas kisarannya sejak sebelum Krisis Keuangan Global,” ujar Mark Zandi.
Menurutnya, investor kini mulai memperkirakan langkah berikutnya dari Federal Reserve bukan lagi pemangkasan suku bunga, melainkan kenaikan suku bunga untuk mengendalikan inflasi.
Pertemuan G7 Jadi Sorotan Pasar
Pelaku pasar juga menyoroti pertemuan menteri keuangan dan gubernur bank sentral negara-negara G7 yang berlangsung di Prancis pada Senin dan Selasa.
Pertemuan tersebut membahas dampak makroekonomi dari konflik Timur Tengah terhadap perekonomian global.
Di pasar mata uang, euro menguat 0,3 persen menjadi USD1,1654, sedangkan poundsterling naik 0,8 persen menjadi USD1,3434.
Sementara itu, yen Jepang sedikit melemah dengan pasangan USD/JPY naik 0,1 persen ke level 158,85.
Menteri Keuangan Jepang, Satsuki Katayama, mengatakan pemerintah mencermati pergerakan spekulatif di pasar keuangan serta dampak volatilitas harga minyak.
Pelaku pasar juga meyakini Tokyo sempat melakukan intervensi untuk memperkuat yen pada akhir April 2026.