Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka di zona hijau pada awal perdagangan Kamis, 5 Maret 2026. Penguatan indeks terjadi setelah pada sesi sebelumnya IHSG mengalami tekanan yang cukup dalam.
Pada pembukaan perdagangan, IHSG berada di level 7.695,347. Mengacu pada data RTI hingga pukul 09.20 WIB, IHSG langsung melonjak 162,579 poin atau naik 2,15 persen ke posisi 7.739,644.
Sepanjang perdagangan pagi, IHSG sempat menyentuh level tertinggi di 7.765,613 dan level terendah di 7.681,688.
Penguatan indeks juga diikuti oleh mayoritas saham yang bergerak positif. Tercatat sebanyak 573 saham mengalami kenaikan harga, sementara 78 saham melemah dan 67 saham lainnya bergerak stagnan.
Dari sisi aktivitas perdagangan, total transaksi yang tercatat mencapai Rp3,516 triliun dengan volume saham yang diperdagangkan sebanyak 6,898 miliar saham. Adapun kapitalisasi pasar tercatat sebesar Rp13.803,995 triliun.
IHSG Berpotensi Melemah
Dalam riset harian Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI), disebutkan bahwa pada perdagangan sebelumnya indeks saham Amerika Serikat ditutup menguat.
Penguatan tersebut didorong oleh rilis data tenaga kerja swasta ADP yang tercatat sebesar 63 ribu pada Februari. Data tersebut menjadi indikator awal menjelang rilis data ketenagakerjaan Nonfarm Payrolls (NFP) yang dijadwalkan pada Jumat.
Indeks Dow Jones tercatat naik 0,49 persen, S&P 500 menguat 0,78 persen, sementara Nasdaq melonjak 1,29 persen.
Selain itu, Amerika Serikat juga merilis data ISM Manufacturing PMI Februari yang berada di level 52,4. Angka tersebut memang lebih rendah dibandingkan Januari, namun masih berada di atas ekspektasi pasar yang sebesar 51,8.
Sementara itu, pada perdagangan sebelumnya IHSG ditutup melemah cukup tajam sebesar 4,57 persen ke level 7.557. Beberapa saham yang menjadi pemberat indeks antara lain TLKM, AMMN, BRMS, dan BBCA.
Perdagangan tersebut juga diiringi aksi jual bersih (net sell) investor asing sebesar Rp213 miliar.
Tekanan terhadap IHSG dipicu oleh revisi outlook Indonesia oleh lembaga pemeringkat Fitch dari stabil menjadi negatif.
Secara teknikal, pergerakan IHSG telah menyentuh level support penting di kisaran 7.486. Indeks berpotensi mengalami gap up dengan level resisten di area 7.700.
“Menyikapi beragam kondisi tersebut, IHSG berpotensi melemah di rentang 7.360 hingga 7.650 akibat sentimen risk-off dari eskalasi konflik di Timur Tengah. Keputusan Fitch menurunkan outlook Indonesia menjadi negatif turut menambah tekanan pada pasar domestik,” tulis analis KISI dalam risetnya.
Selain itu, nilai tukar rupiah juga diproyeksikan masih berada dalam tekanan pada kisaran Rp16.850 hingga Rp17.000 per dolar AS akibat meningkatnya sentimen geopolitik global.
Analis menilai perhatian pelaku pasar saat ini lebih tertuju pada perkembangan konflik Timur Tengah dibandingkan rilis data ekonomi Amerika Serikat seperti ISM Services.
Dikutip dari metrotvnews.com