Peneliti Sindikasi Pemilu dan Demokrasi (SPD), Aqidatul Izza Zain, menilai pemilih muda memiliki peran besar dalam menyukseskan pemilu di masa mendatang. Hal tersebut ia sampaikan dalam diskusi bertajuk “Sinergi Pilar Demokrasi” yang digelar Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI di Lombok, NTB, Senin (8/12/2025).
Menurut Izza, penyelenggara pemilu, khususnya KPU, harus meningkatkan partisipasi anak muda, tidak hanya menjadikan mereka sebagai objek partisipasi. Ia mendorong pendekatan yang lebih dekat dan sesuai dengan ruang ekspresi generasi muda.
“Jadi menurut saya, ke depan KPU sebagai penyelenggara harus lebih dekat dengan anak muda. KPU datang ke anak muda dalam ruang-ruang mereka misalnya komunitas musik, komunitas hobi dan sebagainya,” ujar Izza.
Izza menegaskan, berdasarkan pengalaman Pemilu dan Pilkada 2024, pemilih muda merupakan kelompok yang mendominasi, dengan jumlah lebih dari 50 persen dari total pemilih nasional.
Guru Besar Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada (UGM), Mada Sukmajati, turut menekankan pentingnya keberlanjutan program pendidikan pemilih yang dijalankan KPU. Menurutnya, hal itu menjadi kunci lahirnya pemilih yang independen serta sadar akan hak politik mereka.
“Pendidikan pemilih itu tidak cukup menjelang pemilu, tapi harus berlangsung sepanjang tahun, jangka panjang, terus-menerus. Untuk bisa melahirkan pemilih yang berdaulat, yang bisa independen,” kata Mada.
Keduanya berharap, peningkatan peran pemilih muda dalam pemilu dapat berjalan efektif melalui sinergi antar pemangku kepentingan, serta perbaikan komunikasi politik yang lebih inovatif dan humanis.
Dikutip dari RRI.co.id