IHSG Dibuka Menguat, Investor Cermati Arah Suku Bunga Bank Indonesia

IHSG Dibuka Menguat, Investor Cermati Arah Suku Bunga Bank Indonesia

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia dibuka menguat pada perdagangan Senin pagi di tengah sikap pelaku pasar yang masih menunggu arah kebijakan suku bunga Bank Indonesia.

IHSG tercatat naik 29,40 poin atau 0,39 persen ke posisi 7.663,40. Sementara itu, indeks saham unggulan LQ45 turut menguat 1,83 poin atau 0,24 persen ke level 760,70.

IHSG Berpotensi Konsolidasi

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas, Imam Gunadi, menyampaikan bahwa secara teknikal IHSG memiliki resistance terdekat di level 7.773. Jika level tersebut mampu ditembus, maka berpotensi membuka ruang kenaikan lanjutan.

Namun, selama IHSG masih tertahan di bawah resistance tersebut, potensi koreksi atau pullback tetap perlu diwaspadai. Adapun level 7.308 menjadi support penting yang dapat menopang indeks jika terjadi tekanan pasar.

Dalam periode 20–24 April 2026, IHSG diperkirakan bergerak dalam fase konsolidasi dengan pola sideways cenderung volatil, dipengaruhi sentimen geopolitik serta belum stabilnya aliran dana asing.

Fokus Pasar pada Kebijakan Suku Bunga BI

Dari dalam negeri, perhatian pelaku pasar tertuju pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang dijadwalkan berlangsung pada 21–22 April 2026. Konsensus pasar memperkirakan suku bunga acuan akan tetap berada di level 4,75 persen guna menjaga stabilitas nilai tukar dan inflasi.

Selain keputusan suku bunga, pasar juga mencermati arah kebijakan ke depan, terutama dalam merespons tekanan eksternal yang meningkat.

Sentimen Global Masih Dominan

Dari sisi global, pergerakan pasar dipengaruhi dinamika geopolitik di kawasan Timur Tengah, termasuk perkembangan situasi di Selat Hormuz yang menjadi perhatian utama investor.

Selain itu, pasar juga menantikan sejumlah data ekonomi penting. Dari China, rilis Loan Prime Rate (LPR) menjadi indikator arah kebijakan moneter. Konsensus memperkirakan LPR satu tahun di level 3,0 persen dan LPR lima tahun di 3,5 persen.

Sementara dari Amerika Serikat, data penjualan ritel Maret 2026 diperkirakan tumbuh 1,3 persen secara bulanan. Data ini menjadi indikator penting kekuatan konsumsi sebagai penggerak utama ekonomi AS.

Selain itu, data cadangan minyak mentah mingguan juga menjadi perhatian karena mencerminkan kondisi pasokan dan permintaan energi global.

Bursa Global Kompak Menguat

Pada penutupan perdagangan akhir pekan lalu, bursa saham Eropa mencatatkan penguatan signifikan. Indeks Euro Stoxx 50 naik 2,10 persen, FTSE 100 Inggris menguat 0,73 persen, DAX Jerman naik 2,27 persen, serta CAC Prancis menguat 1,97 persen.

Di Wall Street, indeks saham utama juga ditutup menguat, dengan S&P 500 naik 1,20 persen, Nasdaq menguat 1,52 persen, dan Dow Jones naik 1,79 persen.

Sementara itu, bursa saham Asia pada Senin pagi juga bergerak positif, di antaranya indeks Nikkei Jepang, Shanghai Composite, Hang Seng Hong Kong, serta Strait Times Singapura yang sama-sama berada di zona hijau.

Kondisi ini menunjukkan bahwa meskipun terdapat ketidakpastian global, optimisme pasar masih tetap terjaga, meski dibayangi volatilitas jangka pendek.