Melemahnya Dolar AS Dorong Investor Masuk ke Pasar Saham

Melemahnya Dolar AS Dorong Investor Masuk ke Pasar Saham

Dolar Amerika Serikat (AS) berbalik melemah pada perdagangan Senin, 13 April 2026, seiring meredanya permintaan aset safe haven dan meningkatnya selera risiko investor di pasar global.

Mengacu pada data Investing.com, indeks dolar AS yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia turun 0,3 persen ke level 98,37.

Pelemahan ini terjadi meskipun Presiden Donald Trump mengumumkan blokade militer di Selat Hormuz, menyusul kegagalan perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran. Namun, harapan akan kelanjutan negosiasi turut memperbaiki sentimen pasar dan mendorong investor kembali ke aset berisiko seperti saham.

Trump menyatakan bahwa blokade tersebut diberlakukan terhadap seluruh kapal yang memasuki atau keluar dari pelabuhan Iran. Ia juga menegaskan bahwa langkah ini diambil untuk menjaga stabilitas global dan mencegah tekanan terhadap pasar energi dunia.

Selat Hormuz sendiri merupakan jalur strategis yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dan gas global, sehingga setiap gangguan di kawasan tersebut berpotensi memicu gejolak harga energi dan inflasi global.

Harga minyak sempat melonjak setelah pengumuman blokade, namun kemudian mengalami koreksi seiring meningkatnya lalu lintas kapal di kawasan tersebut. Kondisi ini turut meredakan kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan energi.

Sepanjang konflik geopolitik yang berlangsung sejak akhir Februari, dolar AS sempat menguat karena berfungsi sebagai aset lindung nilai. Namun, membaiknya sentimen risiko global kini mendorong pelemahan mata uang tersebut.

Di pasar mata uang utama lainnya, euro dan poundsterling mencatat penguatan. Euro naik 0,3 persen menjadi USD1,1759, sementara poundsterling juga menguat 0,3 persen ke USD1,3505.

Sementara itu, yen Jepang justru melemah, dengan pasangan USD/JPY naik 0,1 persen ke level 159,41. Gubernur Bank Sentral Jepang, Kazuo Ueda, menyatakan bahwa kondisi ekonomi dan inflasi masih sesuai proyeksi, namun pihaknya tetap mencermati dampak konflik global.

Di Eropa, mata uang forint Hongaria menguat setelah kekalahan Viktor Orban dalam pemilu nasional. Pergantian kepemimpinan dinilai membuka peluang percepatan akses terhadap dana Uni Eropa, yang menjadi sentimen positif bagi pasar.

Secara keseluruhan, pergerakan dolar AS saat ini dipengaruhi kombinasi faktor geopolitik dan perubahan sentimen investor global, dengan kecenderungan melemah seiring meningkatnya optimisme pasar terhadap penyelesaian konflik.

Dikutip dari metrotvnews.com