Pemerintah terus mempercepat pemulihan konektivitas pascabencana banjir dan longsor yang melanda Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Langkah ini dilakukan untuk memastikan jalur logistik kembali berfungsi dan dapat menjangkau seluruh wilayah terdampak.
Berdasarkan data BNPB dan Kementerian PUPR per 8 Desember 2025, bencana tersebut berdampak pada 52 kabupaten/kota. Sebanyak 961 orang meninggal, 234 warga masih hilang, dan sekitar 1 juta orang mengungsi.
Kerusakan Infrastruktur Meluas
“Sebanyak 156.500 rumah rusak serta lebih dari 1.200 fasilitas umum terdampak. Termasuk 435 jembatan dan 62 jembatan yang terputus,” ujar Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), Rabu (10/12/2025), di Jakarta.
AHY menjelaskan, kerusakan terberat terjadi pada ruas-ruas jalan dan jembatan yang terputus akibat longsor dan banjir bandang. Pemerintah mengerahkan alat berat serta mengoptimalkan jalur darat, udara, dan laut untuk mempercepat distribusi bantuan.
“Daerah-daerah terisolasi harus segera dihubungkan kembali. Ini agar suplai logistik dapat masuk,” terangnya.
Pemulihan Permanen Butuh Waktu
AHY mengatakan pemulihan permanen membutuhkan waktu lebih panjang serta koordinasi kuat antara pemerintah pusat dan daerah. Dalam waktu dekat, ia kembali dijadwalkan melakukan kunjungan kerja ke Sumatra, termasuk meninjau penanganan di Aceh Tamiang.
Terkait estimasi kerugian, perhitungan awal menunjukkan nilai mencapai sekitar Rp50 triliun. Namun angka tersebut dapat berubah seiring pembaruan data di lapangan.
Setelah masa tanggap darurat yang diperpanjang 14 hari, pemerintah akan memasuki tahap rehabilitasi dan rekonstruksi. “Arahan Presiden Prabowo Subianto adalah percepatan penanganan dengan tetap menjaga kualitas,” ujar AHY.
Dikutip dari RRI.co.id