Dalam beberapa bulan terakhir, jajanan tradisional tahu isi ayam suwir menjadi sorotan kuliner di berbagai kota besar Indonesia. Tidak hanya dijual di pasar tradisional, camilan ini juga mulai merambah kafe, gerai modern, serta platform pemesanan daring.
Dengan cita rasa gurih, tekstur lembut di dalam, dan kulit tahu renyah di luar, tahu isi ayam suwir dianggap berhasil menjembatani selera klasik dan modern. Awalnya populer di beberapa daerah di Jawa Barat sebagai variasi gorengan isi sayur, tren ini melejit sejak akhir 2024 melalui media sosial, khususnya TikTok dan Instagram. Konten kreator menampilkan proses memasak yang sederhana namun menggugah selera, mendorong banyak orang untuk mencoba membuat atau membeli camilan ini.
Rani Prasetyo, penjual camilan rumahan di Bekasi, mengaku omzet harian mencapai Rp1,8 juta berkat inovasi tahu isi ayam suwir. “Ternyata banyak pelanggan bilang rasanya lebih kaya dan lebih mengenyangkan. Dari situ pesanan terus naik,” ujarnya.
Keunikan tahu isi ayam suwir terletak pada kombinasi bahan mudah ditemui dengan rasa yang kompleks. Ayam suwir berbumbu dimasukkan ke dalam tahu yang dilubangi, kemudian dicelupkan ke adonan tepung dan digoreng hingga renyah. Menurut Chef Dimas Sutanto, konsultan kuliner, keberhasilan camilan ini berasal dari fleksibilitas rasa tahu yang menyerap bumbu dengan baik.
Fenomena ini mendorong banyak pelaku UMKM memulai usaha berbasis rumah dengan modal kecil. Harga jual tahu isi ayam suwir berkisar Rp2.000–Rp4.000 per buah dengan margin keuntungan 40–60 persen. Siti Maryati, penjual gorengan di Surabaya, menyebut pendapatannya meningkat dua kali lipat setelah menambahkan menu ini di lapaknya.
Selain pedagang rumahan, kafe dan restoran dengan konsep makanan lokal modern mulai memasukkan tahu isi ayam suwir sebagai menu pendamping minuman atau side dish. Penyajian kreatif dengan sambal modern atau plating minimalis turut menarik perhatian pelanggan, termasuk gerai minuman boba yang menjadikannya pelengkap minuman manis.
Menurut pengamat kuliner Laras Putri Nugroho, adaptasi ini menunjukkan potensi besar makanan lokal jika dikemas secara kreatif. Konsumen milenial dan Gen Z responsif terhadap inovasi, selama cita rasa dan tampilan tetap menarik.
Meski penjualan meningkat, menjaga konsistensi kualitas menjadi tantangan. Tekstur tahu dan ayam mudah berubah jika penyimpanan atau penggorengan tidak tepat. Rani menekankan pentingnya mengganti minyak goreng secara rutin agar camilan tetap renyah.
Para pengamat memperkirakan tren tahu isi ayam suwir tidak akan menjadi fenomena sesaat. Dengan berbagai variasi rasa, seperti pedas manis, keju, atau rica-rica, camilan ini berpotensi bertahan lama di peta kuliner Indonesia, menjadi primadona baru bagi konsumen lokal.
Dikutip dari palpos.disway.id