Dolar Amerika Serikat (AS) menguat tipis pada perdagangan Senin, 11 Mei 2026, didorong meningkatnya permintaan aset aman di tengah memanasnya kembali ketegangan diplomatik antara AS dan Iran.
Mengutip data Investing.com, indeks dolar AS yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia naik 0,1 persen menjadi 97,96.
Penguatan dolar terjadi setelah Presiden AS Donald Trump menolak proposal balasan Iran terkait rencana penghentian konflik yang telah berlangsung lebih dari dua bulan.
Media pemerintah Iran sebelumnya melaporkan Teheran secara resmi mengajukan tanggapan atas proposal AS dengan sejumlah tuntutan, antara lain penghentian pertempuran di seluruh lini, pengakuan kedaulatan Iran atas Selat Hormuz, serta kompensasi perang dari AS.
Trump menilai proposal tersebut tidak dapat diterima karena tidak memuat komitmen Iran terkait penghentian aktivitas pengembangan senjata nuklir.
Ia juga menyebut gencatan senjata antara AS dan Iran berada dalam kondisi kritis dan sangat rapuh.
Ahli strategi valuta asing dan suku bunga global Thierry Wizman menilai penguatan dolar AS masih akan berlanjut selama harga minyak mentah tetap tinggi akibat blokade ekonomi terhadap Iran dan ancaman gangguan lalu lintas kapal tanker di kawasan Teluk.
Menurut Wizman, dampak kenaikan harga minyak terhadap ekonomi global diperkirakan lebih besar dibandingkan dampaknya terhadap perekonomian AS sehingga mendukung posisi dolar sebagai aset safe haven.
Selain faktor geopolitik, pelaku pasar juga menantikan rilis data inflasi AS melalui indeks harga konsumen (CPI) dan indeks harga produsen (PPI) April 2026.
Investor memantau apakah lonjakan harga minyak mulai memengaruhi inflasi inti AS yang sebelumnya relatif stabil.
Chief Investment Officer Brent Schutte mengatakan komponen energi diperkirakan menjadi faktor utama pendorong inflasi utama AS dalam dua bulan terakhir.
Menurut dia, data PPI juga akan menjadi indikator penting untuk melihat potensi kenaikan harga konsumen di masa mendatang.
Pasar menilai lonjakan inflasi akibat kenaikan harga energi dapat mendorong Federal Reserve mempertahankan atau bahkan menaikkan suku bunga lebih lama, yang pada akhirnya memperkuat dolar AS.
Di sisi lain, yuan Tiongkok tercatat menguat tipis terhadap dolar AS dengan pasangan USD/CNY turun 0,1 persen ke level 6,7948.
Data pemerintah Tiongkok menunjukkan inflasi konsumen April tumbuh 1,2 persen secara tahunan, lebih tinggi dibandingkan ekspektasi pasar sebesar 0,9 persen.
Sementara itu, inflasi produsen atau PPI Tiongkok melonjak 2,8 persen secara tahunan, melampaui proyeksi konsensus sebesar 1,7 persen.
Untuk mata uang lainnya, poundsterling Inggris turun 0,1 persen menjadi USD1,3620, sedangkan euro melemah 0,1 persen ke level USD1,1776.
Pelemahan poundsterling juga dipengaruhi hasil pemilihan lokal di Inggris yang menunjukkan tekanan terhadap Partai Buruh pimpinan Perdana Menteri Keir Starmer, sementara Partai Reformasi Inggris yang dipimpin Nigel Farage mencatat peningkatan dukungan signifikan.