Rupiah Dibuka di Posisi Rp17.489 per Dolar AS pada Perdagangan Selasa

Rupiah Dibuka di Posisi Rp17.489 per Dolar AS pada Perdagangan Selasa

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka melemah pada perdagangan Selasa, 12 Mei 2026, seiring penguatan mata uang Negeri Paman Sam akibat meningkatnya ketegangan geopolitik global.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah berada di level Rp17.489 per dolar AS atau melemah 75 poin setara 0,43 persen dibanding penutupan sebelumnya di Rp17.414 per dolar AS.

Sementara itu, data Yahoo Finance menunjukkan rupiah berada di posisi Rp17.410 per dolar AS pada waktu yang sama. Nilai tukar tersebut masih lebih lemah dibanding pembukaan perdagangan sehari sebelumnya di level Rp17.370 per dolar AS.

Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi memproyeksikan rupiah bergerak fluktuatif namun tetap ditutup melemah dalam rentang Rp17.410 hingga Rp17.460 per dolar AS.

Menurut Ibrahim, pelemahan rupiah dipicu mandeknya perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran terkait konflik di Timur Tengah.

Ia mengatakan investor global masih memusatkan perhatian pada kondisi Selat Hormuz yang sebagian besar tetap tertutup sejak awal konflik berlangsung.

Presiden AS Donald Trump disebut menilai tanggapan Iran terhadap proposal perdamaian AS tidak dapat diterima, sehingga meningkatkan risiko geopolitik dan mendorong penguatan dolar AS sebagai aset safe haven.

Ketegangan geopolitik tersebut juga terjadi menjelang kunjungan Trump ke Tiongkok akhir pekan ini untuk bertemu Presiden Xi Jinping di Beijing.

Pertemuan kedua pemimpin negara diperkirakan akan membahas isu perdagangan, Taiwan, serta konflik Iran, mengingat Tiongkok dinilai memiliki hubungan diplomatik yang cukup baik dengan Teheran.

Dari dalam negeri, Survei Konsumen Bank Indonesia pada April 2026 menunjukkan keyakinan masyarakat terhadap kondisi ekonomi nasional masih berada di zona optimistis.

Hal tersebut tercermin dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) April 2026 yang tercatat sebesar 123,0, sedikit meningkat dibandingkan Maret 2026 yang berada di level 122,9.

Level indeks di atas 100 menunjukkan konsumen masih memiliki optimisme terhadap kondisi ekonomi nasional.