United States Dollar Terpukul Euro dan Japanese Yen

United States Dollar Terpukul Euro dan Japanese Yen

Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) melemah pada penutupan perdagangan Jumat waktu setempat, di tengah reaksi pasar terhadap lonjakan inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan. Indeks dolar, yang mengukur kekuatan mata uang AS terhadap enam mata uang utama dunia, turun 0,18 persen ke level 98,645.

Pelemahan ini terjadi setelah data inflasi menunjukkan tekanan harga yang signifikan di ekonomi AS, terutama dari sektor energi.

Pergerakan Mata Uang Global

Pada perdagangan di New York, euro menguat menjadi USD1,1725 dari sebelumnya USD1,171. Sementara itu, poundsterling Inggris juga naik ke USD1,3463 dari USD1,3446.

Di sisi lain, dolar AS menguat terhadap yen Jepang ke level 159,28 yen, namun melemah terhadap franc Swiss menjadi 0,7893. Dolar juga tercatat sedikit menguat terhadap dolar Kanada menjadi 1,383, tetapi turun terhadap krona Swedia ke 9,2781.

Pergerakan ini mencerminkan dinamika pasar global yang merespons perubahan sentimen risiko dan ekspektasi kebijakan moneter.

Inflasi AS Capai Level Tertinggi

Data dari Bureau of Labor Statistics menunjukkan inflasi AS pada Maret 2026 mencapai 3,3 persen secara tahunan (year on year/yoy), meningkat tajam dibandingkan bulan sebelumnya.

Secara bulanan, indeks harga konsumen (CPI) naik 0,9 persen. Lonjakan ini didorong oleh kenaikan harga energi sebesar 10,9 persen, dengan harga bensin melonjak hingga 21,2 persen.

Sementara itu, inflasi inti yang tidak memasukkan komponen makanan dan energi tercatat lebih stabil, yakni naik 0,2 persen secara bulanan dan 2,6 persen secara tahunan.

Dampak ke Pasar dan Kebijakan Moneter

Lonjakan inflasi ini mencerminkan dampak kenaikan harga komoditas global sebelum tercapainya gencatan senjata di Timur Tengah. Meski ketegangan mulai mereda, biaya energi masih berada di level tinggi.

Kondisi ini menjadi tantangan bagi Federal Reserve dalam menentukan arah kebijakan suku bunga. Tekanan inflasi yang meningkat berpotensi menahan langkah pelonggaran moneter dalam waktu dekat.

Selain itu, lonjakan harga energi juga memberikan dampak luas terhadap konsumen, mulai dari kenaikan biaya bahan bakar hingga meningkatnya biaya transportasi dan logistik.

Secara keseluruhan, pelemahan dolar AS mencerminkan respons pasar terhadap meningkatnya inflasi dan ketidakpastian arah kebijakan ekonomi ke depan, di tengah dinamika global yang masih bergejolak.