Nilai tukar rupiah menguat tipis pada penutupan perdagangan akhir pekan, Jumat (21/11/2025). Berdasarkan data Bloomberg, rupiah naik 0,12% atau 20 poin ke posisi Rp16.716 per dolar AS, didorong oleh rilis laporan transaksi berjalan Indonesia yang mencatat surplus.
Surplus Transaksi Berjalan Dongkrak Rupiah
Bank Indonesia (BI) melaporkan bahwa transaksi berjalan kuartal III 2025 mencatat surplus USD4 miliar, setara 1,1% dari PDB. Kondisi ini menjadi penopang utama penguatan rupiah di tengah tekanan global.
Analis Pasar Uang, Ibrahima Assuaibi, menjelaskan bahwa surplus ini disokong oleh:
- Surplus neraca perdagangan nonmigas yang meningkat
- Penurunan defisit neraca jasa, seiring naiknya kunjungan wisatawan mancanegara
- Defisit pendapatan primer yang menyempit, karena periode pembayaran dividen dan bunga investasi asing telah berakhir
Namun, BI mencatat bahwa kenaikan harga minyak global meningkatkan defisit neraca perdagangan migas.
Transaksi Modal dan Finansial Masih Tertekan
Meski transaksi berjalan surplus, transaksi modal dan finansial masih mencatat defisit USD8,1 miliar pada kuartal III 2025. Hal ini disebabkan oleh:
- Outflow portofolio asing dari instrumen surat utang
- Defisit investasi lainnya, akibat meningkatnya pembayaran pinjaman sektor swasta
Ketidakpastian global yang tinggi membuat arus modal ke negara berkembang, termasuk Indonesia, cenderung berhati-hati.
Prospek Rupiah Awal Pekan: Cenderung Fluktuatif
Ibrahima memperkirakan rupiah pada Senin mendatang masih berpotensi bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah di rentang:
Rp16.710 – Rp16.740 per dolar AS
Sentimen Eksternal: Fed Lebih Hawkish, Data AS Menguat
Sentimen pasar global tertekan setelah sejumlah pejabat The Fed mengisyaratkan sikap hawkish, menurunkan peluang pemangkasan suku bunga pada Desember 2025.
Beberapa faktor pendukung penguatan dolar AS:
- Inflasi AS masih bertahan di kisaran 3%
- Data tenaga kerja lebih kuat dari perkiraan, dengan penambahan 119.000 lapangan kerja pada September
- Namun, tingkat pengangguran naik ke 4,4%
Geopolitik: Konflik Rusia–Ukraina Masih Belum Selesai
Ketegangan global turut membebani sentimen pasar. Konflik Rusia–Ukraina belum menemukan titik damai, sementara AS justru menambah sanksi terhadap perusahaan minyak Rusia, memperburuk ketidakpastian pasar energi internasional.
Dikutip dari RRI.co.id