Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali mengalami pelemahan pada pembukaan perdagangan hari ini. Pada Rabu, 21 Januari 2026, rupiah tercatat berada di level Rp16.958 per dolar AS, melemah dua poin atau sekitar 0,01 persen dibandingkan posisi Rp16.956 per dolar AS pada penutupan perdagangan sebelumnya.
Data Yahoo Finance menunjukkan bahwa rupiah pada waktu yang sama berada di level lebih lemah di kisaran Rp16.976 per dolar AS, atau melemah sekitar 0,27 persen dari pembukaan perdagangan kemarin yang berada di Rp16.930 per dolar AS.
Analis mata uang Ibrahim Assuaibi memperkirakan rupiah akan bergerak fluktuatif namun berisiko ditutup melemah pada kisaran Rp16.950 hingga Rp16.980 per dolar AS. Menurutnya, pergerakan mata uang saat ini masih dipengaruhi oleh sentimen global yang belum stabil, termasuk ketegangan geopolitik dan kebijakan perdagangan.
Ibrahim menyebutkan bahwa tekanan berasal dari retorika Presiden AS Donald Trump terkait isu Greenland dan kemungkinan eskalasi kebijakan tarif impor, yang menimbulkan kekhawatiran investor terhadap pasar negara berkembang. Ketidakpastian tersebut mendorong permintaan terhadap aset safe haven, yang tidak selalu mendukung penguatan mata uang seperti rupiah.
Selain itu, ancaman pemberlakuan tarif bea terhadap negara-negara Eropa serta respons potensial Uni Eropa telah menambah ketidakpastian di pasar global dan turut memberikan tekanan pada nilai tukar.
Meski demikian, sentimen domestik tidak sepenuhnya negatif. Dana Moneter Internasional (IMF) merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia ke atas untuk periode 2026 dan 2027, diperkirakan masing-masing berada di level 5,1 persen, sedikit lebih tinggi dibandingkan estimasi 2025. Revisi positif ini dinilai dapat menjadi faktor penahan pelemahan rupiah dalam jangka menengah, seiring prospek ekonomi global yang juga membaik.
Para pelaku pasar juga memperhatikan kebijakan Bank Indonesia, termasuk kemungkinan penahanan suku bunga acuan (BI-Rate) pada pertemuan moneter bulan ini, sebagai langkah menjaga stabilitas nilai tukar di tengah tekanan global.
Dikutip dari antaranews.com