Pernyataan Trump terhadap Iran Dorong Kenaikan Harga Minyak

Pernyataan Trump terhadap Iran Dorong Kenaikan Harga Minyak

Harga minyak dunia menguat pada perdagangan Jumat, 23 Januari 2026, setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengisyaratkan potensi aksi militer terhadap Iran. Pernyataan tersebut memicu kekhawatiran pasar terhadap kemungkinan gangguan pasokan minyak di kawasan Timur Tengah.

Dikutip dari Investing.com, Sabtu, 24 Januari 2026, harga minyak Brent berjangka untuk pengiriman Maret melonjak 1,8 persen menjadi USD65,19 per barel. Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) berjangka juga naik 1,8 persen ke level USD60,43 per barel.

Meski sempat mencatat tekanan pada sesi sebelumnya, harga minyak mentah tetap mengarah pada kenaikan untuk minggu kelima berturut-turut. Kenaikan tersebut ditopang oleh ekspektasi peningkatan permintaan global serta premi risiko yang lebih besar akibat meningkatnya ketegangan geopolitik.

Trump Mengatakan Armada Menuju Iran

Presiden AS Donald Trump, saat berbicara kepada wartawan di atas Air Force One pada Kamis malam, menyatakan bahwa Amerika Serikat memiliki armada yang bergerak menuju Iran. Ia juga memperingatkan Teheran agar tidak membunuh demonstran atau kembali melanjutkan program nuklirnya.

Trump menyebutkan AS memantau situasi dengan sangat ketat, sembari menegaskan bahwa pihaknya berharap tidak perlu menggunakan kekuatan militer. Sejumlah laporan menyebutkan sebuah kapal induk dan beberapa kapal perusak AS dijadwalkan tiba di Timur Tengah dalam beberapa hari ke depan, meningkatkan kekhawatiran akan potensi aksi militer baru di kawasan tersebut.

Iran merupakan salah satu produsen minyak terbesar di Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan menjadi pemasok utama bagi China, importir minyak terbesar di dunia. Setiap intervensi militer terhadap Iran berpotensi mengganggu pasokan minyak global.

Negara tersebut juga tengah dilanda gelombang protes nasional sepanjang Januari terhadap pemerintahan Nezam. Sejumlah laporan menyebutkan ribuan korban jiwa akibat kerusuhan yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir.

Analis Khasay Hashimov menilai reaksi pasar lebih dipicu oleh sinyal risiko geopolitik ketimbang substansi pernyataan Trump. Menurutnya, pernyataan tersebut mengingatkan pelaku pasar betapa cepatnya risiko di Timur Tengah dapat memengaruhi harga minyak mentah ketika jalur pasokan fisik atau aset produksi terancam.

Ia menambahkan, respons harga yang cepat menunjukkan tingginya sensitivitas pasar minyak terhadap isu geopolitik, meskipun kondisi fundamental saat ini masih menunjukkan perlunya pengendalian pasokan.

Harga Minyak Menuju Kenaikan Mingguan

Secara mingguan, harga minyak diperdagangkan lebih dari 1,5 persen lebih tinggi setelah pergerakan yang cenderung berfluktuasi. Pasar juga mencermati perubahan sikap Amerika Serikat terhadap Greenland yang turut memengaruhi sentimen global.

Selain faktor geopolitik, sentimen positif juga datang dari data pertumbuhan ekonomi China yang sedikit lebih baik, serta keputusan Badan Energi Internasional yang menaikkan proyeksi permintaan minyak global untuk tahun 2026.

Harga minyak juga dinilai memiliki ruang untuk rebound setelah mencatat kinerja yang lemah sepanjang 2025. Pelemahan dolar AS turut memberikan dukungan tambahan bagi harga minyak, seiring keyakinan investor bahwa Federal Reserve akan mulai memangkas suku bunga pada paruh akhir tahun ini.

Dikutip dari metrotvnews.com