Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali menguat pada pembukaan perdagangan hari ini. Meski demikian, sentimen geopolitik global masih menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan mata uang Garuda tersebut.
Berdasarkan data Bloomberg, Rabu, 1 April 2026, hingga pukul 09.35 WIB rupiah berada di level Rp17.001 per dolar AS. Posisi tersebut menguat 40 poin atau sekitar 0,23 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya yang berada di level Rp17.041 per dolar AS.
Sementara itu, data Yahoo Finance menunjukkan rupiah berada di level Rp16.994 per dolar AS pada waktu yang sama.
Analis pasar uang, Ibrahim Assuaibi, memprediksi pergerakan rupiah pada hari ini akan cenderung fluktuatif dengan potensi pelemahan pada penutupan perdagangan.
“Untuk hari ini, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp17.040 per dolar AS hingga Rp17.070 per dolar AS,” ujar Ibrahim.
Sentimen penutupan Selat Hormuz
Menurut Ibrahim, pergerakan rupiah dipengaruhi oleh meningkatnya ketegangan geopolitik setelah Iran menutup secara efektif jalur pelayaran di Selat Hormuz. Jalur tersebut merupakan salah satu rute utama distribusi energi global yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia serta sejumlah besar kapal tanker gas alam cair.
Kondisi ini turut mendorong lonjakan harga minyak dunia. Harga minyak Brent berjangka tercatat naik sekitar 59 persen sepanjang Maret, menjadi kenaikan bulanan tertinggi dalam sejarah. Sementara itu, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) melonjak sekitar 58 persen dalam periode yang sama, tertinggi sejak Mei 2020.
Di tengah meningkatnya ketegangan antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel, perusahaan energi Kuwait Petroleum Corporation melaporkan salah satu kapal tanker minyak mentah mereka yang bermuatan penuh, Al Salmi, dihantam serangan yang diduga dilakukan Iran di pelabuhan Dubai.
Kapal tersebut diketahui mampu membawa hingga dua juta barel minyak mentah. Para pejabat juga memperingatkan potensi terjadinya tumpahan minyak di wilayah tersebut.
Selain itu, pasukan Houthi Yaman yang bersekutu dengan Iran juga dilaporkan meluncurkan rudal yang menargetkan Israel. Serangan tersebut meningkatkan kekhawatiran gangguan terhadap jalur pelayaran di Selat Bab el-Mandeb yang menjadi penghubung utama perdagangan antara Asia dan Eropa melalui Terusan Suez.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, bahkan memperingatkan bahwa AS akan menghancurkan fasilitas energi dan sumur minyak Iran jika Teheran tidak membuka kembali Selat Hormuz.
Meski demikian, Gedung Putih menyatakan bahwa pembicaraan antara AS dan Iran masih terus berlangsung dan menunjukkan perkembangan yang positif.
Prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia
Di sisi lain, para ekonom memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal pertama 2026 berada di kisaran 5,1 persen hingga 5,2 persen. Konsumsi rumah tangga dan belanja pemerintah menjadi faktor utama pendorong pertumbuhan tersebut.
Namun, Ibrahim menilai terdapat sejumlah hambatan yang dapat menekan pertumbuhan ekonomi, terutama dari perlambatan pembentukan modal tetap bruto (PMTB) atau investasi serta kinerja net ekspor.
Kondisi tersebut dipengaruhi oleh memburuknya situasi global pada Maret 2026 akibat konflik di Timur Tengah yang berdampak pada harga energi, pasar keuangan, serta nilai tukar.
Meski demikian, momentum musiman seperti Ramadan dan Idulfitri turut memberikan dorongan terhadap konsumsi domestik. Faktor lain seperti pembayaran tunjangan hari raya (THR), bantuan sosial, diskon transportasi, serta pergerakan mudik juga diperkirakan meningkatkan aktivitas ekonomi di berbagai daerah.
Selain itu, tingkat keyakinan konsumen pada Februari 2026 tercatat masih tinggi di level 125,2. Penjualan eceran juga menunjukkan penguatan, sementara indeks PMI manufaktur berada di level 53,8 yang mengindikasikan aktivitas dunia usaha masih ekspansif.
Belanja negara yang meningkat pesat pada awal tahun juga memberikan dorongan tambahan dari sisi fiskal.
Namun demikian, Ibrahim menilai pola pertumbuhan ekonomi yang masih sangat bergantung pada konsumsi perlu menjadi perhatian.
Ia menyebut konsumsi rumah tangga memang menjadi penopang utama ekonomi Indonesia dengan kontribusi sekitar 53 hingga 54 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Saat ekonomi global melemah, permintaan domestik mampu menahan perlambatan.
Di sisi lain, survei Bank Indonesia menunjukkan porsi pendapatan rumah tangga yang digunakan untuk konsumsi menurun menjadi 71,6 persen, sementara porsi tabungan meningkat menjadi 17,7 persen.
“Artinya, rumah tangga masih berbelanja, tetapi mulai sedikit lebih berhati-hati,” kata Ibrahim.
Dikutip dari metrotvnews.com