Nilai Tukar Rupiah Kembali Melemah terhadap Dolar AS

Nilai Tukar Rupiah Kembali Melemah terhadap Dolar AS

Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali melemah pada pembukaan perdagangan Selasa (6/1/2026). Mengutip data Bloomberg hingga pukul 09.50 WIB, rupiah berada di level Rp16.764 per USD, melemah 24 poin atau setara 0,14 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya di Rp16.740 per USD.

Sementara itu, berdasarkan data Yahoo Finance pada waktu yang sama, rupiah tercatat berada di level Rp16.743 per USD.

Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi memprediksi pergerakan rupiah hari ini akan berlangsung fluktuatif dengan kecenderungan melemah. Menurutnya, rupiah diperkirakan bergerak di kisaran Rp16.740 per USD hingga Rp16.770 per USD.

“Untuk perdagangan hari ini, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp16.740 per USD hingga Rp16.770 per USD,” ujar Ibrahim.

Pelemahan rupiah dipengaruhi oleh sentimen global, terutama terkait penahanan Presiden Venezuela Nicolás Maduro oleh Amerika Serikat. Maduro diterbangkan ke AS untuk menghadapi tuduhan kriminal yang telah lama disematkan kepadanya.

Ibrahim menilai operasi tersebut menjadi intervensi paling langsung AS di Venezuela dalam beberapa dekade terakhir dan memicu kecaman dari sejumlah negara. Investor pun mencermati dampaknya terhadap pasar energi serta stabilitas kawasan Amerika Latin.

Presiden AS Donald Trump menyatakan penangkapan Maduro merupakan langkah tegas terhadap apa yang disebutnya sebagai rezim kriminal. Trump juga menegaskan AS akan memastikan proses transisi yang aman dan tertib di Venezuela.

Selain itu, Trump mengancam akan mengambil tindakan terhadap negara-negara yang dinilai bertentangan dengan kebijakan AS, termasuk Kolombia dan Iran, serta kembali mengulangi wacana pengambilalihan Greenland oleh AS.

“Aksi militer yang disertai pernyataan Presiden Trump meningkatkan ketidakpastian geopolitik global. Sejumlah analis memperingatkan langkah Washington dapat menjadi preseden bagi negara adidaya lain, seperti Tiongkok dan Rusia,” jelas Ibrahim.

Di sisi domestik, sentimen positif datang dari data neraca perdagangan Indonesia. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia pada November 2025 surplus sebesar USD2,66 miliar. Dengan capaian tersebut, Indonesia membukukan surplus perdagangan selama 67 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.

Surplus tersebut lebih tinggi dibandingkan Oktober 2025 yang tercatat sebesar USD2,39 miliar. Nilai ekspor Indonesia pada November 2025 mencapai USD22,52 miliar atau turun 6,6 persen secara tahunan (year on year/yoy), dipengaruhi penurunan ekspor nonmigas seperti bahan bakar mineral, lemak nabati, serta besi dan baja.

Sementara itu, impor Indonesia pada November 2025 tercatat sebesar USD19,86 miliar atau turun 0,46 persen secara tahunan. Dengan demikian, neraca perdagangan barang Indonesia mencatat surplus USD2,66 miliar.

Surplus tersebut terutama ditopang oleh sektor nonmigas yang mencatat surplus USD4,64 miliar, dengan komoditas utama penyumbang surplus antara lain lemak dan minyak hewani nabati, bahan bakar mineral, serta besi dan baja.

“Sebelumnya, konsensus ekonom memproyeksikan surplus neraca perdagangan Indonesia akan berlanjut pada November 2025 atau 67 bulan berturut-turut, dengan nilai yang lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya,” pungkas Ibrahim.

Dikutip dari metrotvnews.com