Nilai tukar rial Iran mengalami penurunan drastis di tengah krisis ekonomi yang kian memburuk. Pada Rabu, 14 Januari 2026, US$1 setara 1,06 juta rial, merosot 2.437 persen dibanding awal 2025 ketika US$1 setara 42 ribu rial.
Kelemahan rial tidak hanya terhadap dolar AS, tetapi juga terhadap rupiah. Per Rabu, Rp1 setara dengan 63,39 rial, yang berarti selembar pecahan Rp20 ribu setara dengan 1,3 juta rial Iran. Penurunan nilai tukar ini memperparah krisis ekonomi dan memicu demonstrasi besar-besaran di negara tersebut.
Depresiasi rial mendorong kenaikan harga barang di dalam negeri. Bahan pokok seperti daging, beras, dan kebutuhan dapur lainnya mengalami lonjakan harga. Sektor energi juga terdampak, termasuk bahan bakar minyak (BBM), yang selama ini dijual dengan harga subsidi besar.
Sejak Desember 2025, pemerintah Iran menerapkan sistem harga bensin tiga tingkat untuk mengurangi beban subsidi. Setiap pengendara tetap mendapat jatah 60 liter per bulan dengan harga subsidi 15 rial per liter. Setelah kuota habis, mereka dapat membeli 100 liter tambahan seharga 30 ribu rial per liter. Konsumsi di atas 160 liter per bulan dikenai tarif 50 ribu rial per liter.
Sebelumnya, Iran hanya menerapkan dua lapis harga bensin, yaitu 60 liter pertama per bulan seharga 15 ribu rial per liter, dan pembelian tambahan seharga 30 ribu rial per liter. Kebijakan baru ini menunjukkan tekanan fiskal yang dihadapi pemerintah akibat pelemahan tajam nilai tukar rial.
Dikutip dari cnnindonesia.com