Kementerian Pertanian menargetkan investasi peternakan sapi skala besar di Kalimantan Tengah dengan populasi hingga 200 ribu ekor. Program ini dikembangkan dalam ekosistem usaha terintegrasi guna memperkuat pasokan daging nasional secara berkelanjutan.
Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional, Andi Amran Sulaiman, menyampaikan bahwa langkah tersebut merupakan bagian dari strategi nasional untuk mempercepat swasembada daging dan susu serta membangun sentra peternakan modern berbasis kemitraan.
Program ini juga menjadi bagian dari agenda jangka panjang pemerintah dalam memperkuat kedaulatan protein hewani menuju visi Indonesia Emas 2045.
Pengembangan Terpusat di Sukamara
Pengembangan kawasan difokuskan di Kabupaten Sukamara, Kalimantan Tengah, sebagai sentra peternakan sapi terintegrasi skala besar.
Kawasan peternakan terpadu tersebut akan dikembangkan di lahan seluas sekitar 40.006 hektare dengan populasi awal kurang dari 1.000 ekor sapi. Pemerintah menargetkan peningkatan populasi hingga 200.000 indukan produktif secara bertahap.
Konsep industri sapi terpadu atau Integrated Cattle Industry menggabungkan sapi potong, sapi perah, serta industri pengolahan dalam satu kawasan terintegrasi.
Model Integrated Farming Sapi–Kelapa Sawit
Model pengembangan diperkuat dengan konsep integrated farming sapi–kelapa sawit. Sistem ini memungkinkan penggembalaan sapi dilakukan di area perkebunan kelapa sawit untuk efisiensi pakan sekaligus menghasilkan pupuk organik.
Pendekatan tersebut dinilai mampu meningkatkan nilai tambah usaha, mengoptimalkan pemanfaatan lahan, serta menciptakan sistem produksi yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.
Pengembangan kawasan juga didukung sistem penggembalaan modern berbasis penelitian rumput adaptif lahan marginal. Selain itu, tersedia fasilitas pengolahan produk seperti daging olahan dan produk susu, serta infrastruktur yang dirancang untuk memastikan operasional berjalan efisien.
Percepatan Swasembada Daging dan Iklim Investasi
Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa Indonesia sebagai negara agraris memiliki potensi besar untuk mengoptimalkan sektor peternakan secara mandiri.
Ia menilai kunci percepatan investasi peternakan sapi 200 ribu ekor Kalimantan Tengah terletak pada penyederhanaan regulasi dan kepastian usaha. Pemerintah berkomitmen menciptakan iklim investasi yang kondusif agar pelaku usaha dapat fokus mengembangkan industri, memperluas populasi ternak, dan memperkuat hilirisasi produk.
Menurutnya, pengembangan peternakan skala besar dan terintegrasi akan memberikan dampak signifikan terhadap peningkatan populasi sapi nasional sekaligus memperkuat ketahanan pangan.
Skema Inti–Plasma dan Dukungan KUR
Untuk memperluas manfaat ekonomi, pemerintah menyiapkan pola kemitraan inti–plasma. Perusahaan besar akan bertindak sebagai inti yang bermitra dengan peternak rakyat sebagai plasma.
Skema ini didukung pembiayaan melalui kredit usaha rakyat (KUR) sektor pertanian serta perlindungan asuransi guna meminimalkan risiko usaha dan menjaga keberlanjutan produksi.
Melalui investasi peternakan sapi 200 ribu ekor Kalimantan Tengah, pemerintah menargetkan peningkatan populasi indukan produktif, penguatan produksi daging dan susu nasional, penyerapan tenaga kerja lokal, serta pertumbuhan ekonomi kawasan secara berkelanjutan.
Dikutip dari antaranews.com