Indeks Wall Street Melemah Akibat Memanasnya Konflik AS dan Iran

Indeks Wall Street Melemah Akibat Memanasnya Konflik AS dan Iran

Pasar saham Amerika Serikat berakhir di zona merah pada perdagangan Kamis, 5 Maret 2026. Pelemahan terjadi karena meningkatnya konflik di Timur Tengah yang mendorong kenaikan harga minyak serta memicu kekhawatiran terhadap inflasi global.

Dikutip dari Investing.com pada Jumat, 6 Maret 2026, indeks acuan S&P 500 turun 0,6 persen menjadi 6.829,45 poin. Sementara itu, NASDAQ Composite yang didominasi saham teknologi melemah 0,3 persen ke level 22.748,99 poin.

Adapun Dow Jones Industrial Average yang berisi saham-saham blue-chip mengalami penurunan lebih dalam, yakni 1,6 persen menjadi 47.954,19 poin.

Kepala strategi pasar di Jones Trading, Michael O’Rourke, mengatakan pasar saham berada di bawah tekanan karena lonjakan harga minyak yang mendekati level USD80 per barel.

Menurutnya, suasana penghindaran risiko (risk-off) terlihat jelas di pasar sejak awal perdagangan.

Penurunan Saham Semikonduktor Tekan Pasar

Penurunan saham sektor semikonduktor juga turut membebani pasar saham AS. Hal ini terjadi setelah muncul laporan bahwa pemerintahan Presiden Donald Trump sedang menyusun aturan baru yang akan membatasi pengiriman chip kecerdasan buatan (AI) ke berbagai negara.

Aturan tersebut disebut akan mewajibkan perusahaan teknologi untuk mendapatkan persetujuan dari pemerintah AS sebelum mengekspor akselerator AI dari perusahaan seperti Nvidia dan AMD.

Laporan dari Bloomberg menyebutkan bahwa kebijakan tersebut berpotensi menjadi perluasan pembatasan yang sebelumnya hanya berlaku untuk sekitar 40 negara.

Kabar tersebut memicu aksi jual pada saham perusahaan semikonduktor, termasuk Nvidia yang sempat turun tajam setelah laporan itu muncul.

Michael O’Rourke menyebut sejumlah investor sebelumnya beralih ke perusahaan teknologi raksasa untuk mencari keamanan investasi. Namun strategi tersebut tidak sepenuhnya berhasil karena tekanan juga terjadi pada saham-saham teknologi besar.

Konflik Iran Meningkatkan Risiko Pasar

Tekanan pada pasar saham juga dipicu meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Iran kembali meluncurkan serangan rudal ke Israel yang menandai hari keenam berturut-turut konflik di kawasan tersebut.

Serangan tersebut terjadi hanya beberapa jam setelah Senat Amerika Serikat menolak mosi yang bertujuan menghentikan kampanye militer udara serta mewajibkan persetujuan Kongres untuk tindakan militer.

Situasi politik di Iran juga menambah ketidakpastian. Mojtaba Khamenei disebut sebagai kandidat utama untuk menggantikan pemimpin tertinggi Iran yang terbunuh.

Namun Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa kandidat tersebut tidak dapat diterima sebagai pengganti dan menegaskan bahwa dirinya perlu memberikan persetujuan terhadap pemimpin Iran berikutnya.

Konflik yang berkepanjangan ini mulai berdampak pada ekonomi global, termasuk meningkatnya harga bahan bakar bagi konsumen di Amerika Serikat.

Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF) Kristalina Georgieva menyatakan bahwa konflik tersebut dapat menguji ketahanan ekonomi global.

Ia menilai konflik yang berkepanjangan berpotensi memengaruhi harga energi, sentimen pasar, pertumbuhan ekonomi, serta inflasi global.

Data Tenaga Kerja AS Masih Kuat

Di tengah tekanan pasar, investor juga mencermati sejumlah data ekonomi yang menunjukkan kondisi pasar tenaga kerja AS masih relatif kuat.

Laporan dari Challenger menunjukkan jumlah pemutusan hubungan kerja (PHK) pada Februari turun menjadi 48.307 dari 108.435 pada Januari.

Selain itu, jumlah klaim pengangguran awal di Amerika Serikat tercatat stabil di angka 213 ribu dalam sepekan terakhir, lebih rendah dari perkiraan pasar yang mencapai 215 ribu.

Investor kini menunggu laporan penting terkait nonfarm payrolls yang akan dirilis pada Jumat untuk mendapatkan gambaran lebih jelas mengenai kondisi pasar tenaga kerja AS.

Sementara itu, indeks manajer pembelian (PMI) sektor jasa dari ISM naik ke level tertinggi dalam lebih dari tiga tahun pada Februari, yang menunjukkan permintaan domestik masih kuat.

Menurut analis Deutsche Bank, data ekonomi yang kuat membuat pelaku pasar semakin meragukan kemungkinan pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve dalam waktu dekat.

Probabilitas penurunan suku bunga pada pertemuan bank sentral AS bulan Juni bahkan turun menjadi sekitar 39 persen, yang merupakan level terendah sepanjang tahun ini.